Beban Manchester United di Anfield

Manchester United menghadapi tantangan berat di Stadion Anfield, namun suasana tim lebih optimis, meskipun dibayangi kenangan traumatis sebelumnya.

Manchester United menghadapi tantangan berat di Stadion Anfield, namun suasana tim lebih optimis, meskipun dibayangi kenangan traumatis sebelumnya.

Para pemain Manchester United terlihat sedih saat meninggalkan lapangan, setelah dikalahkan 7-0 dalam pertandingan Liga Inggris antara Liverpool FC dan Manchester United di Anfield pada 5 Maret 2023 di Liverpool, Inggris. Foto oleh Michael Regan/Getty Images

Oleh Anna Fadiah

Trauma. Kata itu membawa gelombang perasaan yang mendalam dalam benak skuat Manchester United menjelang perjalanan mereka ke markas Liverpool, Stadion Anfield, pada Minggu (17/12/2023). Kenangan pahit masih menghantui dari kunjungan terakhir mereka, ketika tim yang dipimpin oleh manajer Erik ten Hag datang dengan sikap penuh percaya diri dan pulang dengan penyesalan yang mendalam setelah menelan kekalahan telak tujuh gol tanpa balas. Momen tersebut meninggalkan bekas yang sulit dihapus dan menjadi beban psikologis yang harus diatasi oleh "Setan Merah" dalam menghadapi tantangan di Anfield.

Perubahan atmosfer psikologis merayap di antara anggota tim tamu. Erik ten Hag, yang pada musim lalu tampil dengan rasa percaya diri saat menginjakkan kaki di Anfield, kini menghadapi perubahan dramatis. Dia mengakui bahwa pandangannya telah berubah. Stadion Liverpool yang dulu dianggapnya sebatas lapangan sepak bola kini memancarkan aura angker yang seakan menuntut pengorbanan ekstra. Ukuran lapangan dan jumlah wasit mungkin tetap konstan, tetapi bagi Ten Hag, Anfield telah menjadi lebih dari sekadar tempat pertandingan. Bagi mereka, ini adalah ujian psikologis yang mengharuskan mereka melewati bayang-bayang masa lalu dengan tekad dan kepala tegak.

Dengan kekalahan memilukan dalam sejarah pertemuan antara dua rival abadi itu, Erik ten Hag menjalani perubahan perspektif yang signifikan. Kali ini, dia meresapi bahwa setiap pemain harus dipenuhi motivasi saat mereka bersiap-siap untuk menghadapi tempat yang begitu bersejarah: Anfield. Ten Hag dengan tegas mengakui kesulitan yang akan dihadapi, menggambarkan stadion itu sebagai medan yang mempesona. Meskipun kenangan buruk musim lalu masih membekas, dia meyakinkan timnya untuk menggunakan pengalaman pahit itu sebagai pendorong untuk bangkit kembali.

Berbalik arahnya kondisi psikologis dapat menjadi poin kritis yang memutar keberuntungan bagi Manchester United. Pada musim sebelumnya, mereka mendekati Anfield sebagai tim yang superior, sedang memimpin dalam perburuan gelar Liga Inggris. Sementara itu, Liverpool, dengan Juergen Klopp sebagai manajer, merasakan kepahitan musim ketujuh yang penuh kutukan. Namun, perubahan psikologis kali ini bisa menjadi pemicu perubahan peruntungan, di mana keseimbangan kekuatan dan determinasi akan menjadi kunci kemenangan.

Musim ini membawa perubahan yang kontras. "Setan Merah," julukan untuk Manchester United, berada di titik terendah mereka. Setelah kekalahan telak 0-3 dari tim papan bawah Bournemouth di kandang sendiri, penderitaan mereka berlanjut dengan kegagalan lolos dari grup Liga Champions melawan Bayern Muenchen. Di sisi lain spektrum, Liverpool berdiri kokoh di puncak klasemen sementara liga, menciptakan kesan bahwa musim ini membawa perbedaan mencolok dalam nasib dan kinerja kedua rival abadi itu.

Gol Dango Ouattara dari Bournemouth dianulir setelah pemeriksaan VAR untuk handball selama pertandingan Liga Premier antara Manchester United dan AFC Bournemouth di Old Trafford pada 09 Desember 2023 di Manchester, Inggris. Foto oleh Robin Jones/Getty Images

Meskipun berada dalam posisi tidak diunggulkan saat ini, tim yang dipimpin oleh Erik ten Hag memiliki peluang untuk tampil dengan kondisi psikologis yang lebih baik. Rasmus Hojlund dan kawan-kawan bisa mendekati pertandingan ini dengan penuh rasa hormat terhadap Liverpool dan suasana di Anfield, sesuai dengan porsinya. Ketidakbebanan ekspektasi dapat membuat langkah-langkah pemain Manchester United lebih ringan, memungkinkan mereka untuk bermain tanpa beban dan memanfaatkan situasi yang kurang menguntungkan ini sebagai peluang untuk memberikan kejutan.

Juergen Klopp, pelatih Liverpool, setuju bahwa ancaman dari tim tamu tampak lebih menakutkan kali ini. "Saya tidak ingin mendengar pernyataan bahwa MU tidak dalam kondisi baik sebelum kita berhadapan. Karena, bagi saya, itu justru akan menjadi pemicu motivasi bagi mereka untuk mengubah keadaan. Semakin banyak orang yang berbicara negatif, mereka akan semakin menguat," ujar Klopp dengan keyakinan. Pendekatan ini mencerminkan pemahamannya akan kekuatan motivasional dan potensi positif yang dapat muncul dari kritik dan pandangan pesimis terhadap tim lawan.

Juergen Klopp sepenuhnya memahami keadaan moral dalam skuat Manchester United. Dia menyadari pengalaman pahit yang dialami mereka pada pertemuan terakhir. Mohamed Salah dan sesama pemain berhasil mengubah keraguan yang dihadapi menjadi semacam "bahan bakar" untuk bangkit. Motivasi tambahan tersebut mendorong "Si Merah" untuk terus menekan dan mencetak gol, hingga akhirnya mereka berhasil meraih kemenangan telak 7-0. Ini adalah cerminan dari kekuatan motivasi yang dapat muncul dari rintangan dan keraguan, mengubahnya menjadi kekuatan untuk mencapai prestasi yang luar biasa.

"Kami menyadari bahwa skor 7-0 pada hari itu merupakan hasil yang luar biasa dan tak terduga. Itu adalah momen yang hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Yang menarik, adalah bagaimana hasil itu dapat menjadi anugerah bagi tim yang kalah, bukan yang menang. Mengetahui situasi lawan dan apa yang memotivasi mereka menjadi kunci penting bagi kami. Ini mengajarkan kami bahwa keberhasilan sejati bukan hanya terletak pada angka di papan skor, tetapi juga dalam pemahaman mendalam terhadap lawan yang kita hadapi."

Skuat Kurang Optimal

Di tengah tren negatif, Manchester United juga dihadapkan pada kendala ketersediaan skuat. Kapten dan gelandang kreatif mereka, Bruno Fernandes, dipastikan absen karena sanksi akumulasi kartu. Harry Maguire, bek tengah andalan, juga harus menepi akibat cedera. Sementara itu, penyerang Marcus Rashford masih mencari ritme setelah penampilan kurang memuaskan melawan Newcastle awal Desember, dan belum mendapatkan kesempatan untuk menjadi starter sejak saat itu. Kondisi skuat yang kurang optimal ini semakin menambah kompleksitas tantangan yang dihadapi oleh "Setan Merah".

Dalam potensi musibah yang menghadang, terdapat peluang tersembunyi bagi "Setan Merah". Namun, syaratnya jelas: mereka harus melepaskan ketergantungan pada bintang individu. Kunci menghadapi kejamnya atmosfer Anfield adalah melalui perjuangan bersama sebagai kesatuan tim. Sayangnya, musim ini, Manchester United terlihat jarang mampu menunjukkan solidaritas dalam permainan sebagai satu kesatuan penuh. Tantangan di Anfield menjadi panggung penting untuk mengubah dinamika itu, di mana kemenangan tidak hanya bergantung pada bakat individual, tetapi pada kemampuan bersatu sebagai tim yang solid.

Manchester United perlu menghadirkan performa sebagaimana saat mereka meraih kemenangan melawan Chelsea pada awal Desember. Saat itu, mereka tampil dengan gaya bermain yang sederhana namun solid, terus menekan lawan sepanjang pertandingan, dan seolah-olah tidak memberikan Chelsea kesempatan untuk bernapas. Pertanyaan yang muncul kembali mengenai kemampuan manajerial Erik ten Hag. Apakah dia mampu mempertahankan performa terbaik mereka setelah kemenangan itu, ataukah mereka akan kembali ke pola permainan yang terkesan rutin setelah pertandingan tersebut?

"Mengingat musim lalu, sebenarnya kami tidak merasa takut. Kami tampil cukup baik pada paruh pertama, namun semuanya hancur setelah turun minum. Namun, itu adalah kisah dari musim lalu, dengan tim dan pemain yang berbeda. Kini, kami harus tampil dengan percaya diri dan siap untuk bertarung dari awal hingga akhir. Kali ini, kami datang dengan tekad untuk meraih kemenangan," ucap Erik ten Hag dengan keyakinan.

Apabila Manchester United gagal menyajikan permainan kolaboratif sebagai sebuah tim, mereka berisiko menjadi lumbung gol bagi Liverpool. Tim ini memiliki lini serang paling mewah di musim ini, ditandai dengan kehadiran lima penyerang berkualitas, yaitu Salah, Luis Diaz, Cody Gakpo, Diogo Jota, dan Darwin Nunez. Kelima pemain ini telah berkontribusi dengan mencetak 24 dari total 36 gol yang sudah dilesakkan oleh Liverpool di kompetisi liga. Dengan ancaman yang datang dari berbagai karakteristik penyerang ini, pertahanan "Setan Merah" perlu benar-benar siap untuk menghadapi ujian yang sulit di Anfield.

Menurut pandangan Paul Merson, seorang pengamat dari Sky Sports, kualitas dari lini serangan akan menjadi kunci kemenangan bagi "Si Merah". "Anda dapat memasukkan Salah dan dua pemain lainnya (tergantung pada pilihan), dan tim Anda tidak akan merosot dalam performa. Tidak ada yang dapat menandingi keketatan dan ketajaman kelima penyerang Liverpool," ungkapnya dengan keyakinan. Analisis ini menyoroti potensi besar yang dimiliki Liverpool dalam meraih kemenangan, terutama dengan lini serang yang tidak hanya tangguh tetapi juga fleksibel dalam variasi pilihan pemainnya.

Fokus tertuju pada sosok Mohamed Salah, penyerang asal Mesir yang kerap menjadi pusat perhatian saat bersua dengan Manchester United. Dalam 11 pertemuan di liga, Salah telah mencatatkan 10 gol dan 4 assist melawan "Setan Merah". Kehadirannya di lapangan menciptakan ancaman nyata, dan dengan kontribusinya, rekor tanpa kemenangan Manchester United di Anfield sejak 2016 mungkin akan terus berkembang menjadi lebih panjang. Kemampuan Salah dalam mencetak gol dan menciptakan peluang dapat menjadi kunci keberhasilan Liverpool dalam menjaga supremasi di pertandingan mendatang.