"Jatuh Cinta Seperti di Film-film" Bukan Sekadar Percintaan

"Jatuh Cinta Seperti di Film-film" menjadi angin segar dalam dunia perfilman Indonesia dengan kesederhanaan cerita yang mengalirkan kekayaan rasa.

"Jatuh Cinta Seperti di Film-film" menjadi angin segar dalam dunia perfilman Indonesia dengan kesederhanaan cerita yang mengalirkan kekayaan rasa.

Bagus dan Hanna dalam film "Jatuh Cinta Seperti di Film-film." Foto oleh Imajinari/IMDb

Oleh Enjang Pramudita

Film, sebagai medium seni, membuka pintu bagi pengekspresian emosi dan cerita-cerita universal. Dalam banyak cara, warna dan kata-kata menjadi sarana untuk menyampaikan perasaan yang dapat dirasakan oleh siapa pun, dan tema sentimen yang paling mendalam adalah cinta.

Dalam film "Jatuh Cinta Seperti di Film-film," sebuah adegan menarik terjadi ketika Bagus Rahman, penulis cerita, mengusulkan ide untuk membuat film hitam putih kepada produser rumah produksi, Pak Yoram (Alex Abbad). Meskipun umumnya film hitam putih dianggap sebagai film art, Bagus dengan cepat menjelaskan bahwa film ini sebenarnya memiliki sifat komersial. Pak Yoram pun merespons dengan lega dan meminta Bagus untuk menjelaskan ide tersebut lebih lanjut.

Adegan tersebut menjadi salah satu cuplikan menarik dari film "Jatuh Cinta Seperti di Film-film." Dalam suasana ruangan kantor, Bagus dan Pak Yoram duduk berhadapan, membahas konsep cerita dengan sentuhan hitam putih yang menjadi ciri khas film ini. Meskipun tanpa megah-megah dalam penggunaan latar dan visualisasi, atmosfer dalam bioskop seolah-olah terikat oleh arus percakapan mereka yang berulang kali memicu gelombang tawa, bahkan menyentuh hati penonton yang terkadang ikut merasakan momen-momen emosional.

Melalui pilihan visual dan naratif yang cerdas, "Jatuh Cinta Seperti di Film-film" bukan sekadar menghadirkan sebuah kisah cinta yang menarik, tetapi juga memberikan pengalaman sinematik yang mengajak penonton untuk terlibat sepenuhnya dalam nuansa dan emosi yang dihadirkan. Film ini memperlihatkan bahwa dalam dunia perfilman, kekuatan untuk menghubungkan dengan penonton terletak pada kemampuan menyampaikan emosi dengan cara yang kreatif dan autentik.

Kurang lebih 85 persen durasi film ini sengaja dipilih untuk disajikan dalam estetika hitam putih. Meskipun pada awalnya, Pak Yoram, sang produser, meragukan penerimaan penonton terhadap pilihan tersebut—dengan mengatakan bahwa warna hitam putih biasanya lebih terkait dengan genre horor dan mungkin sulit diterima di luar itu—pernyataannya justru memicu gelak tawa di antara penonton. Sepertinya, keyakinan Pak Yoram meleset dari kenyataan.

Namun, pada kenyataannya film hitam putih karya sutradara Yandy Laurens ini justru mendapat sambutan luar biasa dan berhasil mencuri hati penontonnya.

Dalam prakteknya, keputusan untuk mempertahankan estetika hitam putih ternyata tidak hanya sebagai eksperimen visual semata, tetapi lebih merupakan pilihan yang sangat cerdas. Setiap adegan yang didominasi oleh percakapan antara Bagus dan Hanna (diperankan oleh Nirina Zubir) atau antara Bagus dengan dua sahabatnya, Chelin (diperankan oleh Sheila Dara) dan Dion (diperankan oleh Dion Wiyoko), menjadi poin fokus yang menarik perhatian. Keberadaan hitam putih tidak hanya menciptakan keindahan visual yang khas, tetapi juga menguatkan daya tarik emosional cerita.

Dengan suasana yang begitu mudah dicerna, film ini memberikan pengalaman yang memikat bagi penonton. Kejelasan setiap dialog dan keasikan dalam hubungan antar karakter menambah kedalaman pada pengalaman menonton. Warna hitam putih tidak sekadar sebagai pilihan gaya, melainkan sebuah alat untuk meresapi dan menyampaikan inti dari setiap percakapan, membentuk suasana yang membawa penonton dalam perjalanan emosional yang memikat dan menyentuh hati.

Melalui keahlian Yandy Laurens dalam memanfaatkan estetika hitam putih, film ini tidak hanya menjadi suguhan visual yang memukau, tetapi juga menciptakan hubungan yang mendalam dengan penonton. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa ketika kreativitas sutradara bersatu dengan kebijakan naratif yang cerdas, hasilnya adalah bukan hanya tontonan yang menarik secara visual, melainkan pengalaman sinematik yang membangun koneksi emosional yang mendalam dengan penontonnya.

Julie Estelle membawa nuansa yang tak kalah penting melalui karakternya, Julie, dengan sedikit obrolan yang mengandung bobot besar. Setiap kata yang keluar dari bibirnya menceritakan cerita, meruntuhkan teori show, don't tell dalam sekejap. Seakan-akan kita terseret ke dalam suasana nostalgic yang dihadirkan oleh pasangan Ethan Hawke dan Julie Delpy dalam trilogi Before Sunrise (1995), Before Sunset (2004), dan Before Midnight (2013), di mana percakapan mereka berdua mengisi seluruh durasi film. Namun, warna hitam putih dalam film ini membawa nuansa unik, mengingatkan pada sentuhan ringan Frances Ha (2012) dan keindahan melankolis Nebraska (2013).

Pertemuan karakter-karakter ini terasa seperti kolaborasi yang manis, terutama dengan pemilihan karakter Hanna sebagai penjual bunga yang menonjol dalam konsep hitam putih. Keputusan Yandy untuk mempertahankan estetika ini juga memiliki makna mendalam, seperti melihat pengalaman pribadinya yang terinspirasi dari duka yang dialami ibunya kehilangan suami dan anak.

Dalam keberagaman elemen-elemen ini, film ini bukan hanya tentang cinta dan obrolan berdua, tetapi juga sebuah perpaduan unik yang menciptakan keajaiban di antara hitam dan putih. Pemilihan warna, karakter, dan cerita menggambarkan kecerdasan sutradara Yandy Laurens dalam merangkai elemen-elemen tersebut menjadi sebuah karya yang menghanyutkan dan penuh makna.

Film ini lahir dari niat awal untuk menjadi sebuah penghormatan cinta kepada ibunya. Sang sutradara, Yandy Laurens, dengan tulus mengungkapkan, "Selama lima tahun, gue bareng Ringgo dan Nirina ngembangin ini dan gue baca-baca lagi yang udah gue tulis. Gue jadi nangis sendiri. Gue jadi sadar, ya untuk mengungkapkan cinta pada mama ya cukup gue datang jadi seorang anak. Enggak perlu gue jadi filmmaker."

Pernyataannya mencerminkan proses pribadinya dalam mengeksplorasi rasa cinta dan penghargaan terhadap ibunya. Seiring waktu, ia menyadari bahwa ekspresi cinta tidak selalu harus melibatkan kreativitas seni, seperti dalam peran seorang pembuat film. Kejujuran dan kehadiran sebagai anak, tampaknya, menjadi cara yang lebih sederhana dan mendalam untuk menyampaikan perasaan itu.

Bagus dalam film "Jatuh Cinta Seperti di Film-film." Foto oleh Imajinari/IMDb

Cerita Bagus dalam film, sejalan dengan perjalanan pribadi Yandy, dimulai dengan keinginan untuk menyatakan cinta pada Hanna, teman SMA-nya yang baru saja kehilangan suaminya. Ungkapan cintanya diwujudkan melalui medium film, yang merangkum semua percakapan dan pertemuan mereka. Bagus berharap bahwa ketika Hanna menonton film tersebut, ia akan menemukan kedamaian dan kemungkinan untuk melangkah maju setelah kehilangan.

Pilihan penggunaan hitam putih dalam visualisasi film juga mendalam. Warna tersebut tidak hanya menggambarkan duka yang menyelimuti Hanna setelah kehilangan suami tercintanya, tetapi juga menciptakan nuansa melankolis yang mendalam dalam mengeksplorasi tema cinta, kehilangan, dan kesadaran diri. Dengan keputusan ini, Yandy Laurens berhasil membawa penontonnya ke dalam perjalanan emosional yang penuh makna dan personal.

Meskipun digolongkan sebagai genre komedi romantis, Yandy Laurens membawa penonton masuk ke dalam dimensi yang jauh lebih dalam, di mana setiap adegan dihiasi dengan nuansa hitam putih yang memungkinkan penonton mengurai dan merasakan sendiri emosi yang disampaikan. Dalam film ini, Bagus dan Hanna sepertinya tenggelam dalam imajinasi mereka, membentuk suatu bentuk hiperrealisme yang memikat.

Yandy tidak hanya menyajikan kisah cinta yang umum ditemui dalam genre komedi romantis, tetapi juga membawa penonton ke dalam perjalanan eksplorasi psikologis. Dengan merujuk pada pemikiran Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulations, Yandy menyoroti konsep bahwa manusia seringkali identik dengan dunia pikiran imajiner dalam menghadapi realitas. Dalam konteks ini, batasan antara kenyataan dan fiksi menjadi kabur, sehingga apa yang kita anggap sebagai realitas seolah terasa semu, sementara bayangan yang ada dalam pikiran kita mendapatkan kejelasan dan keaslian yang lebih nyata.

Kemampuan Yandy dalam membawa penonton melampaui batas-batas konvensional genre filmnya menciptakan pengalaman sinematik yang mendalam. Dengan pendekatan ini, film tidak hanya menjadi sebuah hiburan semata, tetapi juga sebuah eksplorasi terhadap kompleksitas pikiran dan perasaan manusia. Melalui estetika hitam putih dan narasi yang dikerucutkan, Yandy Laurens membuka pintu menuju dunia di mana realitas dan imajinasi bersentuhan, menciptakan pengalaman yang penuh makna dan merangsang pemikiran penonton.

Bagus, sebagai seorang penulis, menjadi perwakilan dari pencarian tak henti-hentinya akan bentuk yang sesuai dengan harapan dan bayangannya yang kian terasa nyata. Namun, dalam usahanya, ia kadang-kadang terjebak dalam dunia imajinatifnya sendiri. Hanna, dengan tajamnya, menyampaikan bahwa semua romansa yang Bagus ciptakan hanya eksis di dalam pikirannya. Tampaknya, Bagus terus memaksa kehendaknya, sehingga Hanna merasa bahwa Bagus mengabaikan rasa duka yang tengah membayangi dirinya.

Hanna dalam film "Jatuh Cinta Seperti di Film-film." Foto oleh Imajinari/IMDb

Hanna, karakter lain dalam kisah ini, juga terjerat dalam dunia pseudorealitasnya sendiri. Proses berduka atas kematian suaminya menjadi sebuah perjalanan yang membutuhkan waktu untuk dihadapi. Bayang-bayang kenangan, dan kebiasaan yang terpatri dalam ingatannya, dianggapnya sebagai teman yang selalu menemaninya. Kesendirian, baginya, bahkan terasa lebih ideal ketimbang harus dihadapkan pada tekanan untuk segera melupakan dan "move on." Ia merasakan adanya suatu larangan tidak tertulis yang menghambat mereka untuk meraih kebahagiaan secara utuh.

Dalam perjalanan Bagus dan Hanna ini, secara tidak langsung, film mencerminkan kondisi sosial masyarakat yang kerap kali memaksa proses berduka untuk berlangsung cepat. Konsep "move on" sering kali ditekankan, dan orang-orang yang mengaku peduli justru berperan sebagai pengejar-pengejar yang terburu-buru mengusir luka kehilangan yang dialami seseorang. Hal ini memunculkan pertanyaan mendalam tentang bagaimana masyarakat melihat dan merespon proses berduka, serta sejauh mana kita dapat memberikan dukungan yang sesuai bagi mereka yang tengah merasakannya.

Sarana Kritik

Di sisi lain, film ini berfungsi sebagai sarana kritik untuk industri perfilman secara menyeluruh. Kehadiran Pak Yoram yang membandingkan antara film art dan film komersial, penggunaan kisah seseorang tanpa izin, hingga perilaku para pelaku film yang "ajaib" namun nyata, membuka kran kritik terhadap aspek-aspek tertentu dalam dunia perfilman.

Pemilihan karakter Chelin dan Dion, yang mengundang tawa penonton, tampaknya menyiratkan sindiran terhadap suatu jejaring bioskop di Indonesia. Jejaring bioskop tersebut kerap kali memutar lagu Celine Dion berulang kali selama bertahun-tahun di dalam studio sambil menunggu film diputar. Hal ini mencerminkan keanehan yang sebenarnya ada dalam praktik industri perfilman di tanah air.

Selain itu, film ini juga mengulas sistem kerja "kejar tayang" dalam pembuatan naskah yang berpotensi mempengaruhi kualitas film itu sendiri. Bagus, sang penulis naskah, bahkan sampai terserang tifus akibat tekanan dalam proses pembuatan film. Ketika ia berada di rumah sakit, Pak Yoram tidak hanya membawakan pakaian Bagus tetapi juga membawa laptop Bagus, agar ia tidak merasa bosan dan tetap dapat bekerja.

Realitas kapitalisme dalam industri perfilman juga ditekankan, di mana para sineas dan rumah produksi kadang harus berhadapan demi mempertahankan idealisme. Terlihat bahwa bahkan untuk konsep komedi romantis, industri lebih memilih menggunakan aktor dan aktris muda, dan hal ini diakui sendiri oleh Hanna, salah satu karakter dalam film, dengan mengatakan, "Mana ada yang mau nonton film cinta-cintaan kalau yang main seumuran kita." Pernyataan ini mencerminkan tekanan dan ekspektasi pasar yang memerlukan penyesuaian demi menjaga daya tarik film di mata penonton.

Benturan antara idealisme dan kapitalisme juga menjadi pengalaman yang dialami oleh Yandy, seperti yang diungkapkan oleh Ringgo, salah satu aktor dalam film ini, yang menyebut bahwa Yandy seringkali dihadapkan pada penolakan dari berbagai pihak karena memilih format hitam putih untuk filmnya.

Ernest Prakasa, dari Imajinari, juga mengakui kesulitan dalam mencari pendanaan untuk proyek ini. Namun, sejak awal, Imajinari telah dibentuk sebagai wadah yang berkomitmen untuk menampung ide-ide kreatif dan idealisme para pelaku industri perfilman. Meskipun menghadapi tantangan, Imajinari tetap teguh pada prinsip-prinsipnya. Dukungan penuh diberikan oleh Imajinari, termasuk kolaborasi dengan Jagartha dan Trinity Entertainment, sehingga film ini bisa terealisasi.

Pengalaman ini mengajarkan bahwa membela idealisme dalam dunia perfilman tidaklah salah. Film, sebagai medium ekspresi, seharusnya bebas dari batasan. Tidak perlu lagi membedakan antara film art dan film komersial. Film adalah film, sebuah karya seni yang memiliki tujuan untuk menyampaikan berbagai nuansa emosi, baik bagi penonton muda maupun tua, tanpa memandang latar belakang atau warna apa pun. Selamat menikmati perjalanan jatuh cinta dalam kebebasan menyampaikan cerita melalui film!