Membangun Kembali Kejayaan Arsenal

Mikel Arteta sukses menghadirkan angin segar dan memulihkan kemegahan Arsenal yang pernah merosot pasca kepergian Arsene Wenger.

Mikel Arteta sukses menghadirkan angin segar dan memulihkan kemegahan Arsenal yang pernah merosot pasca kepergian Arsene Wenger.

Gabriel Jesus dari Arsenal merayakan setelah mencetak gol pertama timnya selama pertandingan Liga Premier antara Arsenal FC dan Brighton & Hove Albion di Emirates Stadium pada 17 Desember 2023 di London, Inggris. Foto oleh Richard Heathcote/Getty Images

Oleh Anna Fadiah

Pada 20 Desember 2019, Mikel Arteta menghadiri konferensi pers pertamanya sebagai manajer Arsenal dengan tekad yang kuat untuk membawa perubahan signifikan dalam gaya permainan dan budaya tim. Dengan penuh gairah, Arteta menyampaikan tekadnya agar Arsenal tampil dominan dan agresif di lapangan.

"Saya ingin kami memegang bola, menyerang sebanyak mungkin," ujar Arteta dengan keyakinan. Pernyataannya mencerminkan ambisinya untuk merancang tim yang mengusung filosofi permainan menyerang dan penguasaan bola, sebuah gaya yang dapat menciptakan keberanian dan kepercayaan diri dalam meraih kemenangan. 

Lebih jauh, Arteta menyoroti pentingnya membangun kultur dan lingkungan yang positif di sekitar tim. Kesadaran terhadap aspek non-permainan dan bagaimana atmosfer yang baik dapat memengaruhi performa para pemain menjadi salah satu fokusnya. Dengan menggarisbawahi hal ini, Arteta mencoba membentuk fondasi yang kokoh untuk mencapai kesuksesan jangka panjang bersama Arsenal.

Arteta menghadapi tantangan besar saat diumumkan sebagai manajer Arsenal. Pada masa itu, klub sedang mengalami kesulitan pasca-kepergian manajer legendaris, Arsene Wenger, pada 2018. Keberangkatan Wenger meninggalkan kekosongan yang sulit diisi, dan Arsenal tampaknya tenggelam dalam ketidakpastian dan ketidakstabilan.

Dalam kondisi seperti itu, Arteta dihadapkan pada tugas monumental untuk mengembalikan kejayaan masa lalu klub. Yang menarik perhatian adalah bahwa, sebelum penunjukan sebagai manajer Arsenal, Arteta tidak memiliki pengalaman sebagai kepala pelatih. Namun, dia memutuskan untuk mengambil risiko dan menanggung tanggung jawab besar sebagai pemimpin di salah satu liga sepak bola paling kompetitif di dunia.

Impian Arteta untuk menghidupkan kembali kegemilangan Arsenal di masa lalu terdengar seperti bualan pada awalnya. Namun, itulah yang membuat perjalanannya semakin menarik — sebuah perjalanan yang akan menguji tekadnya, kreativitasnya, dan kemampuannya untuk membentuk tim yang kuat dan berprestasi.

Keraguan terhadap kemampuan Mikel Arteta sebagai manajer Arsenal tidaklah tanpa alasan. Pada tahun-tahun awal kepemimpinannya, klub tidak mampu meraih posisi teratas dalam klasemen, dan strategi permainan yang diterapkan tampak belum terdefinisikan dengan jelas. Arteta juga masih mencari pemain yang sesuai dengan visi dan ide bermainnya.

Pada tahap awal ini, Arteta dihadapkan pada tantangan untuk menciptakan identitas tim yang kuat. Kekurangan hasil positif di lapangan dan ketidakjelasan taktik membuat beberapa pihak meragukan apakah dia bisa membawa Arsenal kembali ke deretan tim elit. Namun, Arteta tidak menyerah begitu saja.

Tahun ketiga di masa kepemimpinan Arteta menjadi periode krusial. Klub aktif di bursa transfer, melakukan sejumlah pembelian pemain yang diharapkan dapat mengisi kekosongan dan memberikan dimensi baru pada tim. Dengan kedatangan sejumlah pemain tersebut, mulai terlihat perkembangan positif dalam kinerja Arsenal. Prestasi tim mulai meningkat, dan identitas permainan yang diinginkan oleh Arteta pun mulai terbentuk dengan lebih jelas. Inilah awal dari sebuah perjalanan yang mengarah pada pencapaian lebih tinggi dan pembentukan fondasi yang kuat bagi masa depan Arsenal di bawah kepemimpinan Arteta.

Empat tahun setelah Mikel Arteta resmi menjabat sebagai manajer Arsenal, tepatnya pada Rabu, 20 Desember 2023, prestasi klub ini telah menunjukkan lonjakan yang luar biasa. Arsenal kembali merebut status sebagai salah satu tim papan atas dalam sepakbola Inggris. Saat ini, "Si Meriam" berhasil menduduki puncak klasemen Liga Inggris menjelang paruh musim kompetisi 2023-2024. Prestasi ini menjadi bukti kemajuan yang signifikan dalam perjalanan klub di bawah kepemimpinan Arteta.

Tidak hanya dalam kompetisi domestik, Arsenal juga mengukir pencapaian di tingkat Eropa. Mereka berhasil melangkah ke babak 16 besar Liga Champions, sebuah pencapaian yang menandai kembalinya klub ini ke panggung elit kompetisi bergengsi tersebut. Sejak absen dari Liga Champions sejak 2017, kehadiran Arsenal kembali di ajang ini menjadi sebuah cerita sukses yang ditorehkan oleh Arteta dan para pemainnya.

Manajer Arsenal Mikel Arteta berbicara kepada para pemain saat istirahat minum dalam pertandingan Grup B Liga Champions UEFA di Stadion Emirates, London. Tanggal gambar: Rabu 8 November 2023. Foto oleh John Walton/Getty Images

Pencapaian gemilang ini membuktikan bahwa perjalanan panjang untuk membangun kembali kejayaan Arsenal di tingkat lokal dan internasional mulai membuahkan hasil. Arteta mampu membawa timnya keluar dari bayang-bayang masa-masa sulit, memberikan identitas permainan yang kuat, dan mengembalikan kepercayaan diri para pemain. Dengan semangat baru ini, Arsenal dan para penggemarnya kini memiliki harapan besar untuk meraih lebih banyak trofi dan mengukir sejarah yang lebih gemilang di masa mendatang.

Ketertarikan terhadap Arsenal di bawah kendali Mikel Arteta semakin meningkat setiap tahunnya. Keinginan manajer ini untuk melihat penampilan timnya dominan benar-benar tercermin dalam peningkatan kualitas permainan yang terus terjadi. Banyak pihak yang turut memberikan penilaian terhadap perkembangan ini, dan salah satunya adalah mantan bek Liverpool, Jamie Carragher. Menurut Carragher, meskipun serangan Arsenal belum mencapai tingkat ketajaman yang dimiliki musim lalu, ada peningkatan secara keseluruhan dalam penampilan tim.

Pertimbangan ini didukung oleh data statistik yang menunjukkan bahwa produktivitas serangan Arsenal mengalami penurunan jika dibandingkan dengan musim sebelumnya. Setelah 17 pertandingan, Arsenal hanya mampu mencetak 35 gol, sedikit berkurang dari jumlah 40 gol yang mereka raih pada periode yang sama musim lalu. Meskipun demikian, penurunan ini mungkin lebih bersifat statistik, dan keberhasilan tim dalam mendominasi pertandingan mungkin menjadi aspek yang lebih utama bagi Arteta.

Dengan demikian, di bawah arahan Arteta tidak hanya mengejar ketajaman serangan semata, tetapi juga berusaha untuk membangun fondasi permainan yang dominan dan konsisten untuk membangunkembalikejayaanArsenal. Perjalanan ini, yang terus menunjukkan peningkatan setiap musimnya, memberikan harapan kepada para penggemar bahwa Arsenal dapat menjadi kekuatan yang lebih besar di panggung sepak bola, baik di dalam negeri maupun di kompetisi Eropa.

Meskipun sejumlah pihak, termasuk mantan bek Liverpool, Jamie Carragher, menyatakan bahwa serangan Arsenal belum mencapai ketajaman musim lalu, analisis statistik menunjukkan perspektif yang menarik. Menurut Orbinho, seorang analis data terkemuka, kualitas peluang yang dihasilkan oleh Arsenal pada musim ini tidak mengalami perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan musim sebelumnya. Pada 17 pertandingan terakhir musim lalu, Arsenal mencatat 32,64 expected goals (xG), sedangkan pada musim ini angka tersebut hanya sedikit berkurang menjadi 32,03 xG.

Data ini menunjukkan bahwa secara kuantitatif, Arsenal masih mampu menciptakan peluang dengan tingkat kualitas yang serupa. Mungkin yang membedakan adalah tingkat efisiensi dalam mengonversi peluang menjadi gol. Beberapa faktor mungkin mempengaruhi, termasuk adaptasi pemain baru seperti Kai Havertz yang baru bergabung. Hal ini memberikan gambaran bahwa, meskipun terdapat perbedaan dalam efektivitas penyelesaian peluang, Arsenal tetap memiliki kapasitas untuk menghasilkan serangkaian peluang yang berkualitas.

Kai Havertz dari Arsenal merayakan bersama rekan satu timnya setelah mencetak gol kedua timnya selama pertandingan Liga Premier antara Arsenal FC dan Brighton & Hove Albion di Emirates Stadium pada 17 Desember 2023 di London, Inggris. Foto oleh Richard Heathcote/Getty Images

Analisis seperti ini menggambarkan bahwa sementara statistik dapat memberikan wawasan tentang efisiensi tim dalam mencetak gol, peran pemain baru dan dinamika permainan juga menjadi faktor penting dalam membentuk pola serangan tim. Arteta, sebagai arsitek di balik proyek perubahan Arsenal, memiliki tugas untuk terus mengoptimalkan efisiensi tim dalam berbagai aspek untuk mempertahankan posisi mereka di puncak klasemen dan meraih sukses di berbagai kompetisi.

Meskipun torehan gol Arsenal pada musim ini menunjukkan penurunan, namun keberhasilan mereka dalam membangun pertahanan yang kokoh memberikan dimensi baru pada performa tim. Dengan hanya kebobolan 15 gol, Arsenal memegang rekor sebagai tim dengan jumlah gol kemasukan paling sedikit di Liga Inggris pada paruh musim 2023-2024. Data expected goals against (xGA) juga menyoroti bahwa kualitas peluang lawan yang dihadapi oleh Arsenal sejauh ini hanya sekitar 13,03 xGA.

Ketangguhan pertahanan ini menciptakan fondasi kuat bagi kesuksesan tim, dan hal ini juga tercermin dari performa kiper dan lini belakang. Mikel Arteta, dengan pendekatan taktisnya, tampaknya berhasil membentuk sebuah unit pertahanan yang solid, yang menjadi landasan untuk meraih hasil positif. Kombinasi dari sistem permainan yang terstruktur dan kontribusi individu para pemain bertahan membuktikan perubahan signifikan yang telah terjadi di Emirates Stadium.

Arsenal, yang kini menggenggam kendali di puncak klasemen Liga Inggris, membuktikan bahwa keberhasilan tidak hanya dibangun dari produktivitas serangan, tetapi juga fondasi yang kokoh dalam merespons ancaman lawan. Arteta, sebagai arsitek di balik perubahan ini, patut mendapat apresiasi atas kemampuannya dalam mengoptimalkan potensi tim, tidak hanya dalam mencetak gol, tetapi juga dalam menjaga ketertiban di lini pertahanan.

Ketangguhan lini pertahanan Arsenal bukanlah hasil dari pendekatan yang sepenuhnya defensif atau strategi "parkir bus." Sebaliknya, Mikel Arteta dan timnya, dengan Martin Odegaard sebagai salah satu penggerak kunci, menerapkan tekanan tinggi secara agresif hingga ke sepertiga akhir lapangan. Pendekatan ini bertujuan agar tim lawan kesulitan untuk melewati separuh lapangan, memberikan tekanan intensif dan membatasi ruang gerak lawan.

Dengan memadukan strategi menyerang dan bertahan, Arsenal berhasil menciptakan keseimbangan yang efektif dalam permainan mereka. Odegaard, selaku gelandang serang, tidak hanya berperan dalam mencetak gol atau memberikan assist, tetapi juga turut serta dalam upaya menekan lawan sejak daerah pertahanan mereka sendiri. Ini menciptakan situasi di mana tim lawan sulit untuk membangun serangan dengan nyaman, karena Arsenal memberikan resistensi sejak awal lapangan.

Pendekatan yang menonjolkan aspek tekanan dan intensitas ini mencerminkan filosofi permainan modern di mana tim tidak hanya mengandalkan pertahanan yang rapat, tetapi juga aktif dalam memulai serangan. Oleh karena itu, Arsenal di bawah arahan Arteta telah berhasil membentuk identitas permainan yang dinamis, memadukan elemen menyerang dan bertahan untuk mencapai kesuksesan di berbagai sektor lapangan.

Performa mengesankan yang ditunjukkan oleh Brighton and Hove Albion sebagai salah satu tim terbaik dalam membangun serangan dari belakang kini menjadi sorotan. Pada akhir pekan sebelumnya, mereka mengalami kegagalan mencetak gol untuk pertama kalinya setelah 32 pertandingan beruntun. Arsenal, dengan strategi penekanan yang kuat, berhasil menghentikan pergerakan lawan sehingga Brighton tak mampu menciptakan peluang yang signifikan.

Gabriel Jesus dari Arsenal membobol gawang Bart Verbruggen dari Brighton & Hove Albion selama pertandingan Liga Premier antara Arsenal FC dan Brighton & Hove Albion di Emirates Stadium pada 17 Desember 2023 di London, Inggris. Foto oleh Richard Heathcote/Getty Images

Pertandingan tersebut menyaksikan Brighton kesulitan mencatatkan tembakan pada babak pertama, sedangkan Arsenal mampu menciptakan tidak kurang dari 15 tembakan. Manajer Brighton, Roberto De Zerbi, mengakui bahwa musim ini, menurut pandangannya, Arsenal telah menjadi tim terbaik di Liga Inggris. Pujian tersebut menunjukkan dampak positif dari perubahan pendekatan permainan Arsenal di bawah arahan Mikel Arteta, yang kini diakui sebagai salah satu kekuatan utama di kompetisi sepak bola Inggris.

Semangat agresif Arsenal dalam menekan lawan dapat diukur melalui data yang dihimpun oleh Squawka. Dalam analisis tersebut, Arsenal berhasil mencatat jumlah tekel, intersepsi, dan blok umpan terbanyak di sepertiga akhir lapangan, mengungguli seluruh tim Liga Inggris dengan total 138 kali. Keunggulan ini tampak nyata, terutama jika dibandingkan dengan tim peringkat kedua dalam kategori tersebut, yaitu Spurs yang hanya mencatatkan 112 kali.

Strategi Arsenal dalam hal ini tampaknya terinspirasi oleh ajaran Manajer Manchester City, Josep Guardiola, yang menekankan pentingnya penguasaan bola sebagai cara efektif untuk bertahan. Bagi Guardiola, semakin banyak penguasaan bola yang dimiliki oleh tim, semakin minim peluang yang dimiliki oleh lawan. Dengan demikian, pendekatan ini menandakan bahwa Arsenal di bawah arahan Mikel Arteta telah berhasil mengimplementasikan strategi bertahan yang efisien dan proaktif, dengan fokus utama pada pemulihan bola di sepertiga akhir lapangan.

Menurut Roy Keane, legenda gelandang Manchester United, kekuatan fisik telah menjadi salah satu keunggulan utama Arsenal pada musim ini. Hal ini tidak terlepas dari kehadiran gelandang bertahan Declan Rice, yang dibeli dengan biaya transfer mencapai 105 juta euro, memecahkan rekor transfer klub. Keane mengakui bahwa Rice telah memberikan dimensi keunggulan fisik yang signifikan kepada Arsenal.

Dengan postur tubuh yang tegap setinggi 1,85 meter, Rice dikenal sebagai gelandang yang tangguh dan tak pernah lelah. Kemampuannya untuk membaca arah serangan lawan dan melakukan intersep dari belakang telah menjadi aset berharga bagi Arsenal. Tipe pemain seperti Rice sebelumnya tidak banyak dimiliki oleh "Si Meriam" dalam musim-musim sebelumnya. Keberadaannya menambah dimensi fisik dan kekuatan pada lini tengah Arsenal, membuktikan bahwa strategi transfer yang diambil oleh klub telah memberikan dampak positif pada penampilan tim di lapangan.

Kompetitif dan Kekeluargaan

Arteta telah berhasil menciptakan kultur dan lingkungan yang positif di dalam tim Arsenal. Manajer asal Spanyol itu mampu menggabungkan atmosfer kompetitif dan kekeluargaan di antara para pemain. Meskipun setiap pemain bersaing untuk memperebutkan posisi utama, persaingan dijalani dengan sehat, dan dukungan satu sama lain tetap terjaga.

Eddie Nketiah dari Arsenal dan Mikel Arteta, Manajer Arsenal, berpelukan penuh waktu menyusul kemenangan tim mereka dalam pertandingan Liga Premier antara Arsenal FC dan Sheffield United di Emirates Stadium pada 28 Oktober 2023 di London, Inggris. Foto oleh David Price/Getty Images

Dalam setiap posisi, hampir selalu ada dua pemain andal yang siap berkompetisi. Meskipun demikian, tidak terlihat adanya kekecewaan berlebihan dari para pemain yang mungkin mendapatkan waktu bermain yang lebih sedikit. Sebagai contoh, kiper Aaron Ramsdale sempat dikabarkan merasa tidak bahagia dengan persaingan di posisinya, terutama dengan kehadiran David Raya. Namun, Ramsdale telah menunjukkan kematangan dengan menerima peran sebagai pelapis dalam skuad saat ini.

Kebersamaan dalam skuad "Si Meriam" selalu terpancar jelas di lapangan. Para pemain tidak hanya bermain sebagai individu, tetapi selalu memberikan dukungan lebih pada rekan satu tim yang mungkin membuat kesalahan. Suasana positif ini sangat tampak, seperti yang terjadi dalam pertandingan melawan Bournemouth pada Oktober lalu. Saat itu, Martin Odegaard memberikan kesempatan eksekusi penalti kepada Kai Havertz, yang sedang mengalami kehilangan percaya diri sejak pindah dari Chelsea.

Nuansa positif dalam skuad menjadi fokus utama Arteta sejak awal kepemimpinannya. Manajer asal Spanyol tersebut selalu menekankan bahwa tidak ada yang lebih besar dari kepentingan tim. Setiap pemain dianggap memiliki peran dan posisi yang sama dalam membantu mengangkat prestasi klub ke level selanjutnya. Hal ini menciptakan kerja sama tim yang kuat dan semangat kolektif yang membantu Arsenal meraih kesuksesan musim ini.

Mikel Arteta, saat menghadapi konferensi pers perdananya sebagai manajer Arsenal pada 20 Desember 2019, menegaskan pentingnya membangun kultur yang dapat menjadi fondasi bagi pencapaian yang lebih tinggi. Dalam pernyataannya, Arteta menyampaikan, "Kami harus membangun kultur yang bisa menopang hal lainnya. Jika Anda tidak memiliki itu, situasi sulit akan datang. Pohon Anda akan goyang. Jadi tugas saya adalah meyakinkan semuanya untuk hidup dengan cara yang sama jika ingin tetap berada di organisasi ini."

Mikel Arteta, pelatih Arsenal menghadiri konferensi pers setelah pertandingan Grup B Liga Champions UEFA antara PSV dan Arsenal di Phillips Stadion pada 12 Desember 2023 di Eindhoven, Belanda. Foto oleh Rene Nijhuis/BSR—Getty Images

Pernyataan ini mencerminkan tekad Arteta untuk menciptakan landasan kuat dalam tim dan menekankan pentingnya pemahaman bersama tentang nilai-nilai dan prinsip yang harus dipegang oleh setiap anggota tim. Ia tidak hanya menekankan aspek sepak bola, tetapi juga menggambarkan perlunya keselarasan dalam cara hidup dan berkomitmen bagi setiap individu yang terlibat dalam organisasi Arsenal. Hal ini menjadi langkah awal dalam perjalanan Arteta membangun kembali kejayaan klub yang sempat tersendat sejak kepindahan Arsene Wenger.

Meski Mikel Arteta masih merangkak menuju kesempurnaan dan memiliki kekurangan, terutama dalam memberikan kesempatan kepada pemain muda dari akademi, faktanya, Arsenal mendapatkan manfaat besar dari keberadaannya. Sebagai salah satu manajer termuda di Liga, berusia 41 tahun, Arteta mungkin belum sepenuhnya percaya untuk memberikan kesempatan besar kepada pemain muda, mungkin karena ingin membuktikan prestasinya terlebih dahulu sebelum memasuki tahap tersebut.

Meskipun demikian, keberhasilan Arsenal di bawah kepemimpinan Arteta seperti memenangi lotre. Keberadaan manajer yang awalnya tanpa pengalaman ternyata mengubah nasib "Si Meriam" secara drastis. Hal ini menggambarkan bahwa prinsip investasi, yang diterapkan dengan tingginya risiko dan tingginya hasil, ternyata dapat berlaku pula di dunia sepak bola. Setidaknya, sampai pada titik ini, Mikel Arteta telah berhasil memberikan harapan baru dan membangun kembali kejayaan Arsenal yang sempat merosot setelah kepergian Arsene Wenger.