Mendulang Suara di Pesantren

Pesantren menjadi pusat perhatian Capres dan Cawapres yang berupaya mendulang suara. Kiai, santri, dan para alumni pesantren menjadi sasaran utama.

Pesantren menjadi pusat perhatian Capres dan Cawapres yang berupaya mendulang suara. Kiai, santri, dan para alumni pesantren menjadi sasaran utama dalam upaya memperoleh dukungan.

Tiga kandidat presiden, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto saling menyapa setelah debat pemilihan presiden pertama di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta pada 12 Desember 2023. Foto oleh Yasuyoshi Chiba/AFP—Getty Images

Oleh Rochim Hya

Dalam perebutan kursi kepresidenan menjelang Pemilihan Presiden 2024, pesantren telah menjadi tempat tujuan favorit bagi para kandidat. Ketiga pasangan Capres dan Cawapres dengan tekun menjadikan pesantren sebagai salah satu tempat tujuan yang paling sering dikunjungi selama masa kampanye mereka. Kunjungan ini tidak hanya dimaksudkan untuk menjalin silaturahmi, tetapi juga sebagai strategi untuk mendulang suara.

Pentingnya peran pesantren dalam peta politik Indonesia menjadi alasan kuat bagi para Capres dan Cawapres untuk memasukkan kunjungan ke pesantren ke dalam agenda kampanye mereka. Dalam setiap kunjungan, kandidat-kandidat tersebut berusaha menyampaikan visi, misi, serta program-program mereka kepada para pimpinan pesantren dan santri. Hal ini diharapkan dapat memperoleh dukungan serta meraih simpati dari komunitas pesantren—yang memiliki pengaruh besar terutama di kalangan masyarakat muslim.

Selain berfokus pada agenda kampanye, kunjungan ke pesantren juga menjadi momen bagi Capres dan Cawapres untuk mendalami isu-isu keagamaan dan sosial yang tengah berkembang di masyarakat. Pemahaman mendalam terhadap dinamika sosial dan keagamaan diharapkan dapat membantu kandidat-kandidat tersebut merumuskan kebijakan yang relevan dan dapat memenuhi kebutuhan serta aspirasi masyarakat.

Sebagai pusat pendidikan keagamaan dan kebudayaan Islam, pesantren memiliki peran penting dalam membentuk pandangan masyarakat. Oleh karena itu, kunjungan ke pesantren tidak hanya dianggap sebagai strategi politik semata, tetapi juga sebagai bentuk apresiasi terhadap peran pesantren dalam membentuk karakter dan nilai-nilai keislaman di Indonesia.

Ketika Anies Baswedan, calon presiden nomor urut 1, tiba di Nusa Tenggara Barat pada Selasa (19/12/2023), langkahnya segera diarahkan ke Pondok Pesantren Al-Aziziyah di Lombok Barat. Pesantren yang telah berdiri sejak 1986 itu menjadi tempat tujuan utama kunjungan Anies. Kehadirannya bukan semata-mata untuk menjalin silaturahmi, melainkan juga untuk berdialog dengan tenaga pengajar dan para santri yang menghuni pesantren tersebut.

Pondok Pesantren Al-Aziziyah, sebagai lembaga pendidikan Islam, telah berperan penting dalam membentuk karakter dan pengetahuan agama para santri yang datang dari berbagai daerah. Anies memandang kunjungan ke pesantren ini sebagai kesempatan untuk lebih memahami dinamika keberlangsungan pendidikan keagamaan di Nusa Tenggara Barat dan mendengarkan aspirasi serta harapan tenaga pengajar dan santri.

Calon Presiden nomor urut 1, Anies Baswedan menyapa jemaah dan para santri di Pondok Pesantren Alziziyah di Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (19/12/2023). Foto oleh Antara/Nur Imansyah

Anies Baswedan, tiba di Pondok Pesantren Al-Aziziyah, disambut dengan penuh kehangatan. Mengenakan baju koko putih, peci hitam, dan celana hitam, Anies disambut oleh santri, tenaga pengajar, dan pimpinan pesantren. Serban kemudian dikalungkan oleh Tuan Guru Haji Fathul Aziz, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Al-Aziziyah, sebagai tanda sambutan yang penuh makna.

Kunjungan Anies ke pesantren ini tidak hanya berfokus pada seremonial formal, tetapi juga mencakup dialog mendalam dengan berbagai pihak di lingkungan pesantren. Dalam kunjungannya yang berlangsung sekitar 1,5 jam, Anies berkesempatan untuk bersilaturahmi dengan Tuan Guru Haji Fathul Aziz. Dialog tersebut mencakup sejumlah isu penting, termasuk tanggapan Anies terhadap isu kesetaraan perlakuan pemerintah terhadap lembaga pendidikan negeri dan swasta. 

Santri, tenaga pengajar, dan alumni pesantren juga turut diajak berdialog oleh Anies. Isu perlakuan pemerintah terhadap pesantren menjadi salah satu fokus pembicaraan. Anies menggali pemikiran dan pandangan dari berbagai pihak terkait peran pesantren dalam pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda Indonesia.

Selama kunjungannya, Anies tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengarkan dengan seksama. Dialog yang terjalin mencakup berbagai aspek, seperti kebijakan pendidikan, infrastruktur pesantren, dan tantangan yang dihadapi dalam menjaga eksistensi dan kualitas pendidikan keagamaan.

Pertemuan ini menjadi momentum berharga bagi Anies Baswedan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas dan aspirasi pesantren di Nusa Tenggara Barat. Dengan sikap terbuka dan komitmen untuk mendukung pendidikan keagamaan, kunjungan Anies diharapkan dapat menciptakan hubungan yang positif antara pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan agama di Indonesia.

Anies Baswedan, meskipun menegaskan bahwa kunjungannya ke Pondok Pesantren Al-Aziziyah di Lombok Barat bukan bagian dari kampanye, tetap menyampaikan pesan-pesan penting yang terkait dengan visi dan programnya. Pesantren ini memiliki sekitar 5.000 santri dan 40.000 alumnus, yang menjadikan kunjungan Anies penuh dengan makna.

Meski aturan melarang kegiatan kampanye di lingkungan pendidikan, Anies memanfaatkan kesempatan untuk menyampaikan programnya terkait isu kesetaraan pendidikan di sekolah negeri dan swasta. Dalam dialog dengan Tuan Guru Haji Fathul Aziz, Anies menyoroti pentingnya menciptakan kesetaraan dalam sistem pendidikan, sehingga negara tidak mengalami ketimpangan dalam memajukan sektor pendidikan.

"Salah satu keinginan kami adalah kesetaraan, bagaimana menyetarakan agar negara tidak timpang dalam memajukan pendidikan, seperti ketimpangan pendidikan swasta dan negeri. Sudah saatnya kesetaraan dibangun," ungkap Anies.

Pernyataan ini mencerminkan komitmen Anies untuk menjadikan isu kesetaraan pendidikan sebagai fokus dalam kepemimpinannya, jika kelak terpilih dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Pengakuan akan peran penting pesantren sebagai lembaga pendidikan juga menjadi bagian dari dialog tersebut, dan Anies menggali pemikiran dari berbagai pihak di pesantren untuk merumuskan langkah-langkah konstruktif dalam mengatasi ketimpangan pendidikan.

Perjalanan Anies Baswedan dan pasangannya, Muhaimin Iskandar, selama masa kampanye Pilpres 2024 terus melibatkan kunjungan ke berbagai pesantren di berbagai wilayah Indonesia. Pondok Pesantren Al-Aziziyah di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, menjadi kunjungan terbaru dalam rangkaian kampanyenya.

Sebelumnya, Anies dan Muhaimin telah mengunjungi sejumlah pesantren, termasuk yang berlokasi di Medan di Sumatera Utara, Lubuk Linggau di Sumatera Selatan, Malang di Jawa Timur, Kabupaten Karawang, dan Cirebon di Jawa Barat. Muhaimin juga terpantau melakukan kunjungan serupa di Riau dan Aceh.

Kunjungan ke pesantren menjadi salah satu strategi kampanye untuk memperoleh dukungan dan menyampaikan visi serta program yang diusung oleh pasangan Anies-Muhaimin. Selain sebagai wujud silaturahmi, kunjungan tersebut juga memberikan kesempatan bagi kandidat untuk berdialog dengan pimpinan pesantren, tenaga pengajar, dan santri guna mendengar berbagai isu dan aspirasi yang berkaitan dengan pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat.

Semangat kampanye menjelang Pemilihan Presiden 2024 tidak hanya terlihat pada pasangan calon Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar. Dua pasangan calon lainnya, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD, juga menjalankan strategi kunjungan ke pesantren sebagai bagian dari rangkaian kampanye mereka.

Prabowo Subianto, calon presiden nomor urut 2, memulai kampanyenya dengan mengunjungi Pondok Pesantren Miftahul Huda dan Pondok Pesantren Cipasung di Tasikmalaya, Jawa Barat. Sejak awal kampanye, baik Prabowo maupun Gibran telah mengunjungi enam pesantren secara terpisah. Tujuan kunjungan meliputi wilayah Serang dan Tangerang di Banten, Karawang di Jawa Barat, serta Jakarta Selatan.

Capres nomor urut 2, Prabowo Subianto (kiri) menyapa para santri di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (2/12/2023). Foto oleh Antara/Galih Pradipta

Dengan menghadirkan diri di pesantren, pasangan Capres dan Cawapres Prabowo-Gibran berupaya untuk meraih dukungan dan menyampaikan visi serta program yang mereka tawarkan. Kunjungan tersebut menjadi momen penting dalam upaya membangun relasi dengan pimpinan pesantren, tenaga pengajar, dan santri, sekaligus mendengarkan aspirasi serta isu-isu yang berkaitan dengan dunia pendidikan dan masyarakat.

Kunjungan ke pesantren juga menjadi bagian integral dari kampanye pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD. Dalam rangkaian kampanyenya, pasangan ini telah mengunjungi sekitar 11 pesantren. Mereka menyusun agenda kunjungan ke pesantren di beberapa wilayah, termasuk NTB, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Pada pekan pertama masa kampanye, Ganjar dan Mahfud aktif merespons undangan dari pesantren. Dalam kunjungan mereka, tak hanya berfokus pada silaturahmi dan permohonan restu, namun para kandidat ini juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan program-program mereka. Sebagai contoh, Prabowo Subianto memberikan makan siang dan susu gratis kepada siswa pesantren di Pondok Pesantren Miftahul Huda, sesuai dengan janjinya untuk memberikan fasilitas serupa kepada anak-anak sekolah jika nantinya terpilih.

Capres nomor urut 3, Ganjar Pranowo saat mengunjungi Pondok Pesantren Darussalam Timur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (17/12/20223). Foto oleh Antara/Narda Margaretha Sinambela

Saat melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Darussalam Watucongol di Magelang, Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memberikan penegasan mengenai komitmennya untuk melaksanakan amanat Undang-Undang Pesantren. Dalam kesempatan tersebut, Ganjar menekankan pentingnya peran pesantren dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui komitmen ini, Ganjar berjanji untuk mendukung dan memastikan keberlanjutan fungsi serta kontribusi positif pesantren dalam pengembangan SDM yang berkualitas.

Pesantren yang sering dikunjungi oleh para Capres dan Cawapres tidak hanya menjadi pusat perhatian saat pemilu presiden, tetapi juga telah menjadi tempat tujuan rutin para kandidat pada berbagai pemilihan sebelumnya. Fenomena ini tidak terbatas pada kontestasi presiden, melainkan juga melibatkan pemilihan kepala daerah dan pemilihan legislatif di berbagai tingkatan.

Pesantren yang menjadi tempat tujuan untuk mendulang suara seringkali merupakan lembaga pendidikan Islam yang terkenal, dikenal memiliki jumlah santri yang besar, serta alumni yang telah tersebar di berbagai lapisan masyarakat. Keberadaan pesantren di tengah masyarakat sudah membentuk citra yang kuat dan memiliki pengaruh yang signifikan. Selain itu, figur kiai atau ulama yang menjadi pengasuh di pesantren tersebut seringkali dikenal memiliki karisma dan pengikut yang luas, yang semakin memperkuat daya tarik dan pengaruh pesantren di mata masyarakat.

Berkunjung ke pesantren telah menjadi agenda umum bagi banyak Capres dan Cawapres untuk mendulang suara. Fenomena ini dapat dijelaskan oleh signifikansinya pesantren dalam politik, terutama karena memiliki jumlah santri yang besar dan dipimpin oleh kiai atau tokoh yang memiliki pengaruh besar di masyarakat.

Pesantren, dengan tradisi keagamaannya yang kental, telah menjadi pasar politik yang strategis dari segi elektoral. Hal ini dikarenakan jumlah santri yang banyak dapat menjadi potensi dukungan elektoral yang signifikan. Selain itu, kiai atau tokoh di pesantren seringkali dianggap dekat dengan kalangan pemilih Muslim yang mayoritas pada setiap pemilihan umum. Meskipun sebagian tokoh tersebut bukan berasal dari kalangan santri, kehadiran mereka di pesantren diharapkan dapat memperoleh dukungan lebih mudah dari pemilih Muslim.

Pesantren tidak hanya memiliki potensi dukungan dari santri aktif, melainkan juga dari jaringan alumni yang berpengaruh di berbagai lapisan masyarakat. Keberadaan cabang-cabang dari pesantren tua yang tersebar di seluruh Indonesia menambah dimensi strategis pesantren dalam dunia politik.

Tak hanya itu, mayoritas pesantren memiliki keterkaitan dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Keterikatan ini membuka peluang besar untuk mendapatkan dukungan dari kalangan nahdliyin, terutama di daerah-daerah seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah, di mana pemilih dari kalangan NU memiliki andil signifikan dalam proses pemilihan umum. Dengan demikian, kunjungan ke pesantren menjadi langkah strategis untuk mendapatkan dukungan elektoral yang kuat dari kelompok tersebut.