Saran Dovizioso untuk Marquez di Ducati

Andrea Dovizioso melihat persamaan antara situasi yang dihadapi Jorge Lorenzo dengan yang akan dihadapi Marc Marquez di Ducati.

Andrea Dovizioso melihat persamaan antara situasi yang dihadapi Jorge Lorenzo dengan yang akan dihadapi Marc Marquez di Ducati.

Andrea Dovizioso dari Italia tersenyum saat acara MotoGP™ Legends Hall of Fame pada 8 Juni 2023 di Scarperia, Italia. Foto oleh Mirco Lazzari/Getty Images

Oleh Anna Fadiah

Marc Marquez memutuskan untuk mengakhiri hubungan panjangnya selama 11 tahun dengan Honda, sebuah keputusan berani untuk mencari peluang kemenangan baru di ajang MotoGP. Untuk mewujudkan ambisinya, Marquez tidak segan turun kasta dan bahkan bersedia memangkas gajinya. Langkah ini diambilnya untuk bergabung dengan tim satelit Ducati, Gresini Racing.

Keputusan Marquez ini menandai babak baru dalam kariernya, beralih ke lingkungan baru dengan harapan bisa kembali merasakan kemenangan dan performa kompetitif. Pada sesi tes pascamusim di Valencia bulan lalu, juara dunia delapan kali itu mencatat waktu terbaik keempat, menunjukkan bahwa adaptasinya dengan motor Ducati Desmosedici GP23 berjalan dengan baik.

Tidak hanya itu, Marquez terlihat kembali bahagia dan penuh semangat saat mengendarai motor yang baru. Perubahan ini memberikan sinyal positif bagi para penggemarnya dan menimbulkan antusiasme terkait performa yang diharapkannya bersama Ducati. Dengan pengalaman dan kemampuannya, Marquez menjadi aset berharga bagi Gresini Racing, dan banyak yang menantikan penampilan gemilangnya di musim balap yang akan datang.

Meskipun Marc Marquez telah beralih ke Ducati dengan harapan meraih kesuksesan baru, tetapi tidak dapat dianggap bahwa langkah ini akan mengantarnya secara otomatis ke podium tertinggi. Andrea Dovizioso, mantan pembalap Ducati, memberikan peringatan melalui pengalamannya sendiri.

Dovizioso mencatat masa lalunya sebagai contoh relevan, menunjukkan bahwa meninggalkan pabrikan tertentu dan bergabung dengan yang lain tidak selalu berarti kesuksesan instan. Sebagai referensi, Jorge Lorenzo, yang sebelumnya sukses bersama Yamaha dengan meraih tiga gelar juara dunia, memutuskan untuk meninggalkan tim tersebut pada 2017. Lorenzo menerima tawaran dari Ducati, yang pada saat itu sedang berusaha untuk bangkit dan mengejar kesuksesan sejak Casey Stoner membawa gelar juara pada 2007.

Pindahnya Lorenzo ke Ducati menunjukkan bahwa proses adaptasi dan pencapaian sukses tidak selalu berjalan mulus. Ini menjadi catatan penting untuk Marquez, yang meskipun memiliki prestasi gemilang di Honda, harus membuktikan dirinya lagi dengan motor baru dan lingkungan tim yang berbeda. Semua ini menambah kompleksitas persaingan di dunia MotoGP dan menambah ketegangan untuk melihat apakah Marquez dapat meraih kembali ketajamannya bersama Ducati.

Pertemuan Jorge Lorenzo dengan Ducati tidak berjalan sesuai harapan. Meskipun diberi kepercayaan oleh pabrikan Italia tersebut, hasil yang dicapainya tidak sejalan dengan ekspektasi. Selama dua musim menunggangi Desmosedici, Lorenzo menempati peringkat tujuh dan sembilan pada dua musim berturut-turut.

Di sisi lain, Andrea Dovizioso memiliki perjalanan yang lebih sukses dengan Ducati. Dovizioso, yang membela tim pabrikan tersebut dalam periode yang lebih panjang, berhasil meraih posisi runner-up pada tiga musim beruntun, yakni dari 2017 hingga 2019. Keprestasiannya tersebut membuatnya hanya kalah dari dominasi Marc Marquez. Dengan begitu, hasil yang berbeda antara Lorenzo dan Dovizioso menunjukkan bahwa adaptasi dan kinerja pembalap dapat bervariasi meskipun berada di bawah payung yang sama, yaitu tim Ducati.

Pembalap Ducati Italia Andrea Dovizioso dan pebalap Tim Repsol Honda Spanyol Marc Marquez bersaing saat balapan MotoGP Grand Prix Spanyol di arena pacuan kuda Jerez di Jerez de la Frontera pada 19 Juli 2020. Foto oleh Javier Soriano/AFP—Getty Images

Andrea Dovizioso menggambarkan persamaan antara situasi yang dihadapi Jorge Lorenzo dengan yang akan dihadapi Marc Marquez di Ducati. Dovizioso menyampaikan pandangannya bahwa Lorenzo tiba di tim tersebut dengan keyakinan tinggi untuk mengungguli pembalap lain, namun realitas di lintasan membuktikan sebaliknya. Menurutnya, Marquez, sebagai juara dunia delapan kali, juga akan dihadapkan pada tantangan beradaptasi yang serupa.

Dovizioso menyoroti dua aspek kunci yang perlu disesuaikan oleh Marquez, yaitu teknik pengereman dan penyesuaian dengan karakteristik motor. Ia menjelaskan bahwa motor saat ini menuntut keterampilan fisik dan ketepatan yang tinggi, dan Marquez mungkin belum merasakannya sepenuhnya karena sebelumnya ia bersaing dengan motor yang berbeda di belakang Ducati.

Dengan pandangan yang menarik ini, Dovizioso menciptakan antisipasi terkait bagaimana Marquez akan menanggapi perubahan dinamika di tim Ducati dan sejauh mana dia mampu menyesuaikan gaya balapnya untuk bersaing di puncak kelas MotoGP.

Marc Marquez memberikan gambaran tentang ekspektasinya pada MotoGP musim 2024. Pembalap asal Spanyol itu menegaskan bahwa tujuannya bukanlah merebut gelar juara dunia pada tahun mendatang. Marquez merasa masih berada di bawah level terbaiknya dan menyadari bahwa pendekatan langsung untuk meraih gelar tidak realistis baginya saat ini.

"Saya masih jauh di bawah level terbaik. Saya juga tidak bisa menggunakan pendekatan itu. Saya tidak mungkin melakukannya karena tidak pernah menang dalam dua tahun," ungkap Marquez. Pernyataannya mencerminkan kesadaran diri akan tantangan yang dihadapinya setelah cedera pada seri pembuka MotoGP 2020 dan penurunan kinerja tim Honda.

Marquez menjelaskan bahwa fokus utamanya adalah membangun kembali kepercayaan diri, mencari landasan yang kuat, dan kemudian menggunakan fondasi tersebut untuk meningkatkan performa balapnya. Dia mengakui bahwa langkah pertama yang harus diambil adalah mendapatkan kepercayaan diri yang diperlukan untuk bersaing di level tertinggi. Dengan sikap yang realistis ini, Marquez berkomitmen untuk mengembangkan dirinya sendiri dan menghadapi tantangan dengan tekad yang lebih kuat di masa depan.