Stoner Kritik Ketergantungan MotoGP

Casey Stoner tegas menyuarakan pandangannya terhadap dominasi insinyur dan perangkat elektronik dalam ajang balap MotoGP.

Casey Stoner tegas menyuarakan pandangannya terhadap dominasi insinyur dan perangkat elektronik dalam ajang balap MotoGP.

Casey Stoner dari Australia berbicara pada konferensi pers selama MotoGP Portugal pada 5 November 2021 di Lagoa, Algarve, Faro. Foto oleh Mirco Lazzari/Getty Images

Oleh Enjang Pramudita

Dalam pandangan mantan pebalap Casey Stoner, yang pernah meraih gelar juara dunia MotoGP bersama Ducati dan Honda, sukses dalam MotoGP saat ini sangat bergantung pada peran insinyur. Stoner mengungkapkan bahwa perangkat elektronik canggih dan pengaturan motor yang rumit telah menjadi faktor kunci dalam keberhasilan balapan, bahkan mungkin lebih dari kemampuan langsung pebalap itu sendiri.

Menurut Stoner, keahlian pebalap masih sangat penting, tetapi kemampuan insinyur dalam mengoptimalkan performa sepeda motor dan menyusun strategi balapan telah menjadi faktor penentu. Dalam era MotoGP yang semakin maju, perangkat elektronik seperti sistem kontrol traksi, anti-wheelie, dan berbagai sensor lainnya memainkan peran besar dalam mengatur dan mengoptimalkan kinerja sepeda motor.

Stoner menyoroti bahwa sekarang ini pebalap mungkin tidak memiliki kebebasan penuh untuk menentukan gaya balapnya tanpa ketergantungan pada elektronik. Sementara kemampuan individu pebalap tetap relevan, dinamika balapan telah berubah dengan fokus yang lebih besar pada aspek teknologi dan analisis data. Pandangan ini mencerminkan evolusi MotoGP menuju penggabungan keahlian pebalap dan teknologi tinggi untuk mencapai kinerja optimal.

Keunggulan Ducati dalam ajang balap MotoGP tahun ini memang mencolok. Dari delapan motor yang turun, setengahnya berhasil menempati lima besar, menegaskan dominasi pabrikan asal Italia tersebut. Saingan dari pabrikan lain, seperti KTM dan Aprilia, tampaknya hanya mampu bersaing untuk merebut posisi di belakang Ducati, sementara perebutan kemenangan menjadi semakin sulit.

Situasi yang paling sulit tampaknya dihadapi oleh Honda dan Yamaha, dua pabrikan besar yang terlihat kesulitan untuk menyaingi dominasi Ducati. Meskipun memiliki sejarah kejayaan yang panjang, keduanya mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan performa superior motor Ducati.

Keberhasilan Ducati dalam menempatkan sejumlah motor di lima besar mencerminkan dominasi mereka dalam aspek teknis dan performa. Sementara para pesaingnya harus berjuang keras untuk merebut kemenangan atau setidaknya bersaing di papan atas. Dinamika persaingan yang dipengaruhi oleh keunggulan teknologi dan performa motor menjadikan MotoGP semakin menarik untuk diikuti.

Pandangan Casey Stoner terhadap MotoGP mengungkapkan kekhawatiran terhadap ketergantungan perangkat elektronik dalam ajang balap ini. Menurutnya, keberhasilan di lintasan semakin tergantung pada kemampuan insinyur dan teknologi yang dimiliki oleh pabrikan. Stoner berpendapat bahwa MotoGP seharusnya lebih menekankan pada kemampuan pebalap daripada pengembangan teknologi canggih.

Stoner menyuarakan keinginannya agar MotoGP mengurangi atau bahkan menghilangkan beberapa perangkat elektronik yang dinilainya telah membuat olahraga ini lebih menjadi ajang kejuaraan bagi para insinyur ketimbang bagi para pebalap. Pandangannya mencerminkan dorongan untuk kembali pada esensi balap motor, di mana keterampilan dan keberanian pebalap menjadi faktor penentu utama dalam meraih kemenangan.

Seiring perkembangan teknologi, pertarungan antara manusia dan mesin dalam dunia balap semakin kompleks. Stoner mengajukan pertanyaan kritis terkait arah perkembangan MotoGP dan apakah olahraga ini masih menjaga esensi sejatinya sebagai kompetisi balap antarpebalap.

Casey Stoner dengan tegas menyuarakan pandangannya terhadap arah perkembangan MotoGP, dengan menyoroti dominasi insinyur dan perangkat elektronik dalam kendali penuh. Menurutnya, saat ini terlalu banyak campur tangan teknologi yang seharusnya dikurangi demi kembali pada esensi balap motor yang lebih mendasar.

Stoner menegaskan bahwa para insinyur seharusnya tidak memiliki kendali penuh atas semua aspek dalam dunia MotoGP. Ia mengajukan pemikiran untuk menghilangkan beberapa perangkat elektronik yang dianggapnya merampas keautentikan balapan. Termasuk di antaranya adalah ride height device dan starting device yang dianggap tidak diperlukan, serta penyesuaian pada winglet yang dianggap terlalu ekstensif.

Lebih lanjut, Stoner menginginkan agar pengendara memiliki kendali lebih besar atas motor mereka. Ia mengusulkan untuk mengembalikan sebagian besar keputusan dan kesalahan ke tangan para pebalap, memberikan mereka kebebasan untuk merasakan dan mengendalikan sepeda motor tanpa ketergantungan yang berlebihan pada teknologi.

Dalam konteks balapan MotoGP saat ini, Stoner mencermati kompleksitas motor yang melibatkan aspek mekanikal, aerodinamika, dan sistem elektronik. Pandangannya menegaskan keinginannya untuk melihat balapan yang lebih dinamis dan lebih bergantung pada keahlian serta pengalaman para pebalap.

Casey Stoner menggambarkan perbandingan yang tajam antara kondisi balapan MotoGP saat ini dengan masa lalu, menyoroti perubahan fundamental dalam dinamika dan kendali yang dimiliki oleh para pebalap. Menurutnya, era modern MotoGP telah membatasi kemampuan pengendalian yang seharusnya menjadi ciri khas dari seni mengendarai sepeda motor.

Stoner memandang era dulu sebagai zaman di mana kemahiran seorang pebalap lebih dominan dalam mengendalikan motor. Ia menekankan bahwa mengendarai sepeda motor pada saat itu adalah sebuah seni, di mana para pebalap harus benar-benar mengontrol setiap elemen dari motor mereka. Dalam konteks MotoGP masa kini, Stoner merinci perbedaannya dengan mengungkapkan bahwa kekuatan besar yang dimiliki oleh motor modern membuat pengendalian lebih terkontrol.

Pebalap legendaris tersebut menyoroti beberapa aspek, seperti kekuatan motor yang mencapai 280 tenaga kuda dan kemudahan untuk memutar throttle hingga penuh tanpa risiko terlempar atau wheelie. Dia juga menekankan bahwa sekarang pengendara memiliki keterbatasan dalam membuat perbedaan, terutama karena pengaruh winglet yang memberikan tekanan konstan pada ban depan.

Dengan demikian, pandangan Stoner memberikan gambaran tentang bagaimana evolusi MotoGP telah memengaruhi dinamika balapan dan peran keterampilan individu pebalap dalam mengendalikan sepeda motor.