Bagnaia Tolak Kontrak Jangka Panjang

Francesco Bagnaia menemukan inspirasi dari kontrak Marc Marquez dengan Honda, membuka perspektif baru tentang dinamika kontrak jangka panjang.

Francesco Bagnaia menemukan inspirasi dari kontrak Marc Marquez dengan Honda, membuka perspektif baru tentang dinamika kontrak jangka panjang.

Francesco Bagnaia dari Italia dan Tim Ducati Lenovo berbicara selama konferensi pers pra-acara Grand Prix MotoGP Qatar di sirkuit internasional Losail di Doha, Qatar pada 16 November 2023. Foto oleh Noushad Thekkayil/Getty Images

Oleh Enjang Pramudita

Francesco Bagnaia membuat pernyataan tegas dengan menegaskan bahwa ia tidak berniat untuk menandatangani kontrak jangka panjang bersama Ducati Lenovo. Pernyataan ini menciptakan sorotan dalam arena MotoGP, terutama setelah Bagnaia meraih gelar juara dunia MotoGP pada musim 2023.

Bagnaia tampaknya memberikan perhatian khusus pada pendekatan kontrak jangka panjang dalam dunia balap motor, dan dalam konteks ini, ia menyentuh contoh kontrak serupa yang dimiliki oleh Marc Marquez bersama Honda Racing Corporation (HRC). Marc Marquez, pembalap berprestasi dan juara dunia sebanyak delapan kali, dikenal dengan keterikatannya pada kontrak jangka panjang dengan Honda.

Pernyataan Bagnaia mencerminkan pendekatannya yang lebih fleksibel terhadap kontrak, mungkin sebagai hasil dari pengalamannya atau pandangan pribadinya terkait strategi kontrak dalam dunia balap. Hal ini juga memberikan gambaran tentang bagaimana pembalap-pembalap papan atas seperti Bagnaia mulai menggolongkan kontrak jangka panjang sebagai suatu aspek yang perlu diperhatikan dengan lebih cermat dan mungkin tidak sesuai dengan preferensi pribadi mereka.

Francesco Bagnaia, yang kini menempati posisi sebagai pembalap utama Ducati Corse, telah muncul sebagai figur sentral dalam dominasi Ducati di arena MotoGP. Berusia 26 tahun, Bagnaia berhasil meraih dua gelar juara dunia MotoGP dalam dua musim terakhir, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pembalap papan atas dalam dunia balap motor.

Keberhasilan Bagnaia membawa tim Ducati Corse meraih kemenangan secara berturut-turut, terutama dalam musim 2022 dan 2023, telah menciptakan prestasi bersejarah. Gelar juara dunia yang pertama pada tahun 2022 mengakhiri paceklik juara 15 tahun Ducati, sementara gelar keduanya pada musim 2023 membuktikan konsistensi dan dominasi yang mampu dipertahankan oleh pembalap Italia ini.

Bagnaia tidak hanya menjadi pahlawan di atas lintasan, tetapi juga menjadi simbol sukses bagi tim Ducati. Prestasinya yang gemilang telah mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin yang mampu membawa Ducati meraih puncak kesuksesan. Dengan usianya yang masih relatif muda, Bagnaia memiliki potensi besar untuk terus menjadi kekuatan dominan dalam MotoGP, dan pilihan kontraktualnya yang lebih fleksibel mungkin mencerminkan sikapnya yang ingin menjaga kendali atas arah karier profesionalnya.

Keputusan Francesco Bagnaia untuk tidak menandatangani kontrak jangka panjang dengan Ducati mencerminkan pendekatan yang lebih dinamis terhadap masa depannya dalam ajang MotoGP. Meskipun CEO Ducati, Claudio Domenicali, memberikan keleluasaan pada pembalap asal Italia itu untuk berkembang bersama tim, Bagnaia sendiri memilih untuk tidak terikat dalam kontrak jangka panjang.

Bagnaia, yang telah mencapai puncak kesuksesan dengan meraih dua gelar juara dunia MotoGP bersama Ducati, mengambil inspirasi dari pengalaman Marc Marquez. Marquez, yang menandatangani perpanjangan kontrak empat tahun dengan Honda, memberikan perspektif baru bagi Bagnaia tentang dinamika kontrak jangka panjang.

"Dengan melihat bagaimana hal itu terjadi pada Marc Marquez, yang telah menandatangani perpanjangan kontrak berdurasi empat tahun dengan Honda, saya pikir hal terbaik adalah memikirkan kontrak dua tahun untuk selalu melakukan yang terbaik," ujar Bagnaia. Keputusan ini mencerminkan ambisi Bagnaia untuk tetap fokus pada performa optimalnya dan menjaga fleksibilitas dalam mengelola karier balapnya.

Dengan pendekatan ini, Bagnaia ingin mempertahankan motivasinya untuk terus memberikan yang terbaik bagi Ducati, sambil memastikan keberlanjutan hubungan yang saling menguntungkan antara pembalap dan pabrikan asal Italia tersebut. Keputusan ini menunjukkan bahwa Bagnaia melihat ke depan dengan cara yang lebih dinamis, menciptakan kesempatan untuk peningkatan dan pengembangan yang berkelanjutan dalam kariernya di MotoGP.

Francesco Bagnaia dari Tim Ducati Lenovo berkompetisi pada Tes MotoGP di sirkuit Ricardo Tormo pada 28 November 2023 di Valencia, Spanyol. Foto oleh Pablo Morano/Getty Images

Francesco Bagnaia akan kembali memperkuat tim Ducati Lenovo dalam ajang MotoGP musim depan, bersanding dengan rekan setimnya, Enea Bastianini. Kontrak keduanya dijadwalkan akan berakhir pada akhir musim MotoGP 2024. Sebelum menghadapi seri balapan resmi, keduanya akan menghadapi serangkaian tes pramusim untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan kompetitif di lintasan.

Ada dua tes yang akan menjadi bagian dari persiapan mereka. Pertama adalah tes Shakedown yang dijadwalkan berlangsung pada 1-3 Februari 2024. Tes ini khusus diikuti oleh pembalap rookie atau penguji. Kemudian, tes pramusim MotoGP 2024 akan dilaksanakan pada 6-8 Februari 2024 di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia.

Pada momen tes tersebut, Bagnaia dan Bastianini akan memiliki kesempatan untuk mengevaluasi performa motor, menyusun strategi, dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang mungkin diterapkan tim. Tes pramusim menjadi bagian integral dari persiapan mereka menuju musim balap resmi, di mana setiap detil dan peningkatan kecil dapat membuat perbedaan signifikan di lintasan. Dengan berakhirnya kontrak pada akhir musim, hasil dari tes pramusim ini juga dapat memengaruhi arah karier Bagnaia dan Bastianini selanjutnya.