El Nino Mengancam Petani di NTT

Petani lahan kering, meski umumnya sudah memahami, perlu diingatkan pentingnya mengantisipasi kondisi saat ini yang diwarnai oleh fenomena El Nino.

Petani lahan kering, meski umumnya sudah memahami, perlu diingatkan pentingnya mengantisipasi kondisi saat ini yang diwarnai oleh fenomena El Nino.

Ilustrasi sejumlah area persawahan mengering akibat musim kemarau di Atambua, NTT, pada 5 Oktober 2018. Foto oleh Antara/Kornelis Kaha

Oleh Enjang Pramudita

Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali dihadapkan pada tantangan serius akibat kekeringan yang dipicu oleh fenomena El Nino. Diperkirakan kekeringan ini akan berlangsung hingga April 2024, mengancam sektor pertanian dan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut. Meskipun hujan sesekali turun, namun intensitasnya terbatas dan tidak merata, meninggalkan sejumlah daerah dalam keadaan kering yang mengkhawatirkan.

Situasi ini memberikan tekanan signifikan pada para petani di NTT, yang bergantung pada curah hujan yang memadai untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Kekeringan dapat berdampak negatif pada produksi pertanian, terutama tanaman pangan yang menjadi sumber utama penghidupan bagi sebagian besar penduduk. Ketersediaan air yang terbatas juga dapat memengaruhi kelangsungan hidup ternak dan menurunkan produktivitas pertanian secara keseluruhan.

Dalam menghadapi ancaman ini, petani membutuhkan pendampingan dan dukungan yang kuat dari pemerintah dan berbagai pihak terkait. Pendampingan ini dapat mencakup penyediaan teknologi pertanian yang lebih tahan kekeringan, edukasi mengenai praktik pertanian berkelanjutan, serta bantuan dalam hal pengelolaan sumber daya air. Selain itu, perlu dilakukan upaya penguatan jaringan sosial dan ekonomi bagi petani agar mereka dapat bersama-sama mengatasi dampak kekeringan ini.

Pentingnya kerja sama antara pemerintah, lembaga pertanian, dan masyarakat lokal menjadi kunci dalam menanggulangi krisis kekeringan ini. Langkah-langkah proaktif dan solutif perlu diambil agar NTT dapat mengatasi tantangan ini dan membangun ketahanan pangan serta ekonomi yang lebih kokoh di masa depan.

Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kupang, Rahmatullaj Adji, mengungkapkan bahwa ancaman El Nino telah diprediksi sejak awal musim hujan 2022/2023 dan telah disampaikan oleh pihak BMKG. Prediksi tersebut menunjukkan bahwa fenomena El Nino diperkirakan akan muncul di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada musim hujan 2023/2024, dan saat ini prediksi tersebut telah terbukti.

Dalam pemantauan menggunakan satelit, sebagian besar wilayah NTT masih menunjukkan tanda merah, menandakan bahwa musim hujan belum sepenuhnya dimulai. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa tidak ada hujan sama sekali di wilayah tersebut. Adji menjelaskan bahwa hujan sudah terjadi, namun bersifat sporadis, ringan, sedang, bahkan terkadang disertai angin badai, meskipun hanya berlangsung singkat seperti yang terjadi saat ini.

Kondisi tersebut memberikan gambaran betapa rendahnya intensitas hujan di NTT, yang dapat berdampak pada kekeringan dan potensi kerugian dalam sektor pertanian. Adji menyoroti pentingnya kewaspadaan dan langkah-langkah mitigasi yang diperlukan untuk mengurangi dampak buruk El Nino terhadap masyarakat dan lingkungan. Selain itu, pemantauan terus-menerus dan penyuluhan kepada masyarakat menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ini secara efektif.

Suatu wilayah diindikasikan telah memasuki musim hujan ketika dalam satu dasarian pertama terjadi curah hujan sebanyak 50 mm atau lebih, yang kemudian diikuti oleh dasarian-dasarian berikutnya.

Pada saat ini, sebanyak 26 titik di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah memasuki musim hujan. Wilayah-wilayah ini termasuk Manggarai Barat bagian utara, Manggarai bagian utara, Manggarai Timur bagian utara, dan Ngada bagian utara. Selain itu, daerah-daerah seperti Manggarai Timur bagian timur, Ngada, dan Nagekeo bagian barat, Sumba Barat bagian timur, Sumba Tengah bagian selatan, dan Sumba Timur bagian tengah juga telah mengalami musim hujan.

Kabupaten Rote Ndao, Sabu Raijua, Manggarai Barat bagian tengah, Manggarai Barat bagian timur, Manggarai bagian tengah, dan Manggarai Timur bagian tengah juga masuk dalam kategori wilayah yang telah memasuki musim hujan. Begitu pula dengan Timor Tengah Utara bagian timur, Belu bagian selatan, dan Malaka bagian utara. Penting untuk dicatat bahwa musim hujan tidak terjadi merata di seluruh kabupaten dan kota, melainkan hanya di sejumlah titik yang telah disebutkan.

Bagi daerah yang masih dalam status belum memasuki musim hujan atau masih tercatat sebagai tanda merah, kehati-hatian menjadi suatu kebutuhan mendesak. Masyarakat di wilayah tersebut diharapkan untuk lebih hemat dalam penggunaan air untuk keperluan rumah tangga, irigasi pertanian, dan peternakan. Penting juga untuk tidak mengabaikan air hujan yang turun, melainkan menjadikannya sumber penyiraman dengan menanam tanaman.

Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kupang, Rahmatullaj Adji, memberikan saran kepada petani agar memilih jenis tanaman yang tahan terhadap panas dan memiliki siklus panen yang lebih cepat, seperti umbi-umbian dan kacang-kacangan. Meskipun para petani lahan kering umumnya sudah memahami hal ini, tetapi penting untuk diingatkan kembali mengingat kondisi saat ini sedang menghadapi fenomena El Nino.

Agus Nitsae, seorang petani berusia 58 tahun dari Dusun Tilong, Desa Oelnasih, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, mengungkapkan tantangan yang dihadapi oleh para petani di wilayahnya. Areal seluas 2 hektar yang ditanami dengan tanaman jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan, dan tanaman lainnya telah mengalami layu hanya dalam dua pekan. Agus, bersama dengan petani lahan kering lainnya di dusun tersebut, tidak memiliki akses mudah ke informasi iklim yang disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Agus menjelaskan bahwa kebanyakan petani di dusun tersebut tidak memiliki ponsel pintar atau perangkat sejenis yang memungkinkan mereka untuk mengakses informasi iklim dari BMKG. Kendala ini tidak hanya disebabkan oleh kurangnya keterampilan dalam penggunaan teknologi, tetapi juga karena ponsel tersebut lebih banyak dimiliki oleh anak-anak untuk keperluan pendidikan. Selain itu, keterbatasan paket data dan pulsa juga menjadi faktor pembatas.

Pentingnya peran petugas penyuluh pertanian lapangan turut disoroti oleh Agus. Hingga saat ini, belum ada petugas penyuluh pertanian yang datang ke kelompok tani di dusun tersebut untuk menyampaikan informasi terkait keterbatasan air hujan pada tahun ini. Agus menekankan bahwa para petani, terutama yang menggarap lahan kering, membutuhkan bimbingan dan informasi yang dapat membantu mereka menghadapi tantangan lingkungan seperti fenomena El Nino.

Vinsensius Nurak, Koordinator Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) Nusa Tenggara Timur (NTT), mengungkapkan keprihatinan terkait minimnya informasi terkait fenomena El Nino di kalangan petani. YMTM, yang memiliki sekitar 100.000 kepala keluarga petani binaan, tersebar di wilayah daratan Timor dan Flores, khususnya yang menggarap lahan kering.

Menurut Vinsensius, hampir semua petani yang menjadi binaan YMTM tidak mengetahui bahwa El Nino akan memengaruhi musim tanam tahun ini. Para petani tersebut, yang mengandalkan lahan kering untuk bertani, mengalami tantangan serius akibat keterbatasan hujan. Tanaman seperti jagung, padi ladang, dan jenis tanaman lainnya sudah mulai tumbuh, tetapi usia tanaman tersebut bervariasi antara satu hingga tiga pekan, dan kini mengalami kondisi layu.

Vinsensius Nurak berharap agar para pengambil kebijakan, terutama instansi teknis terkait, dapat terlibat aktif dalam memberikan pendampingan kepada petani lahan kering. Hal ini diharapkan dapat membantu petani menyikapi ancaman kekeringan dengan strategi yang tepat. Meskipun masih ada curah hujan, namun intensitasnya terbatas. Dalam konteks ini, YMTM berupaya untuk memberikan solusi agar petani dapat menghadapi masalah ini dan tetap memiliki stok pangan yang cukup, terutama menghadapi puncak kemarau yang akan datang.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, Amin Djuaria, ketika dihubungi menyampaikan bahwa hingga saat ini dirinya belum menerima laporan langsung dari lapangan terkait dampak kekeringan akibat El Nino. Petugas penyuluh lapangan terus berada di lapangan untuk memantau dan memberikan pendampingan kepada petani. Amin Djuaria menekankan bahwa jika ada masalah signifikan, pasti akan ada laporan yang diterima oleh pihaknya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), Ambrosius Kodo, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang melakukan revisi terhadap dukungan kontingensi kebencanaan. Hal ini bertujuan untuk memastikan pemahaman yang lebih baik terkait kondisi di lapangan, terutama terkait aspek hidrometereologi saat ini. Ambrosius Kodo menekankan bahwa pihaknya tengah mengidentifikasi bantuan sosial apa yang perlu diintervensi dengan segera.

Ambrosius juga menegaskan bahwa terkait dengan potensi gagal panen dan ancaman ketidakpastian pangan, Pemerintah Daerah (Pemda) NTT sudah memiliki stok beras sebanyak 100 ton di setiap kabupaten/kota, dengan total keseluruhan mencapai 2.200 ton. Ditambah dengan stok 200 ton di tingkat provinsi, total stok beras mencapai 2.400 ton. Stok beras tersebut akan dieluarkan hanya jika kondisi di lapangan telah masuk dalam status darurat bencana.