Sejarah Kecelakaan Kereta Api di Indonesia

Sejarah kecelakaan kereta api di Indonesia mencerminkan perjalanan panjang dan penuh tantangan dalam pengembangan sistem transportasi aman dan andal.

Sejarah kecelakaan kereta api di Indonesia mencerminkan perjalanan panjang dan penuh tantangan dalam pengembangan sistem transportasi aman dan andal.

Tim penyelamat melanjutkan operasi pencarian dan penyelamatan setelah KA lokal Bandung Raya bertabrakan dengan KA Turangga di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Indonesia pada 5 Januari 2024. Foto oleh Eko Siswono Toyudho/Anadolu via Getty Images

Oleh Enjang Pramudita

Sektor transportasi kereta api, dengan rekam jejaknya yang umumnya aman, mengalami titik hitam ketika adu banteng terjadi di wilayah Bandung. Kejadian ini menjadikan sejarah kelam karena menelan korban jiwa, mengguncang keamanan dan keselamatan yang selama ini menjadi karakteristik positif dari moda transportasi ini.

Kejadian tabrakan kereta, terutama yang melibatkan korban jiwa, jarang terjadi, membuat peristiwa ini mendapatkan perhatian serius. Kecelakaan ini menjadi peringatan bahwa meskipun transportasi kereta api memiliki reputasi keselamatan yang baik, risiko tetap ada dan harus dikelola dengan cermat. Insiden ini menggugah kesadaran akan pentingnya upaya pencegahan dan peningkatan keamanan dalam sistem transportasi ini untuk melindungi penumpang dan pekerja di sektor ini.

Menurut data yang dihimpun oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, terdapat tren menurun signifikan dalam jumlah kecelakaan kereta api di Indonesia. Jika kita melihat periode awal 2000-an, pada tahun 2007 tercatat sebanyak 139 kecelakaan, dan meskipun mengalami penurunan menjadi 126 pada 2008, angka tersebut masih cukup tinggi.

Namun, perkembangan positif terjadi dalam empat tahun terakhir. Rata-rata kecelakaan kereta api dari tahun 2019 hingga 2022 mencapai angka yang jauh lebih rendah, hanya sekitar 13,75 kecelakaan per tahun. Angka ini mencerminkan upaya dan perhatian yang meningkat terhadap keamanan dalam sistem perkeretaapian di Indonesia.

Peningkatan keselamatan ini mungkin dapat diatribusikan kepada berbagai faktor, termasuk investasi dalam perawatan dan pemeliharaan infrastruktur kereta api, peningkatan pelatihan untuk personel kereta api, dan penerapan teknologi canggih untuk memantau dan mengelola keselamatan perjalanan. Meskipun peristiwa seperti adu banteng di Bandung menjadi catatan kelam, namun trend keselamatan yang meningkat secara keseluruhan menunjukkan langkah-langkah positif dalam menjaga integritas sistem transportasi kereta api.

Perubahan dramatis terlihat dalam data kecelakaan kereta api di Indonesia, tidak hanya dalam jumlah kejadian tetapi juga dalam hal korban jiwa. Pada tahun 2008, terdapat 45 jiwa yang menjadi korban akibat kecelakaan kereta api, namun perkembangan positif terjadi pada periode 2019-2022 di mana tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Penurunan angka kecelakaan ini mungkin mencerminkan upaya sistematis untuk meningkatkan keamanan di sektor perkeretaapian. Peningkatan perawatan infrastruktur, pelatihan intensif bagi personel kereta api, dan implementasi teknologi modern untuk pemantauan dan manajemen keselamatan perjalanan mungkin menjadi faktor kontributor dalam mencapai hasil positif ini.

Meskipun demikian, tetap perlu dicatat bahwa ada dominasi insiden anjlokan dalam kecelakaan kereta api dalam empat tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat tantangan khusus yang perlu diatasi dalam mengoptimalkan keselamatan perjalanan kereta api, dan investigasi lebih lanjut mungkin diperlukan untuk memahami penyebab dan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang lebih efektif.

Dalam menganalisis jenis kecelakaan kereta api, Ditjen Perkeretapiaan Kementerian Perhubungan membaginya menjadi lima kategori utama. Pertama, tabrakan dengan kereta lain, kedua, insiden anjlokan, ketiga, terguling, keempat, terkait dengan banjir atau longsor, dan kelima, kategori lainnya yang mungkin melibatkan faktor-faktor yang tidak termasuk dalam empat kategori sebelumnya.

Menariknya, dari total 55 kecelakaan kereta api yang tercatat selama periode 2019-2022, hanya satu kecelakaan yang merupakan hasil dari tabrakan dengan kereta lain. Hal ini menunjukkan bahwa insiden tabrakan dengan kereta lain relatif jarang terjadi dalam empat tahun terakhir. Begitu pula dengan kejadian terguling dan yang terkait dengan banjir atau longsor, masing-masing hanya terjadi satu kali selama periode yang sama.

Namun, yang menonjol adalah fakta bahwa mayoritas kecelakaan kereta api selama periode tersebut merupakan insiden anjlokan. Hal ini menunjukkan perlunya fokus khusus dalam menganalisis dan mengatasi faktor-faktor yang menyebabkan insiden ini guna meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api di masa mendatang.

Sejarah kecelakaan kereta api di Indonesia memperlihatkan perjalanan panjang dan seringkali penuh tantangan dalam upaya menciptakan sistem transportasi yang aman dan andal. Salah satu tragedi yang tercatat dalam sejarah dimulai pada 22 Desember 1944. Pada peristiwa tersebut, terjadi kecelakaan tragis di Padang Panjang yang melibatkan Kereta Api. Lokasi kejadian berada di Singgalang Kariang, Padang Panjang, yang kini dikenal sebagai rest area Lembah Anai di Sumatera Barat. Keadaan geografis yang terjal di daerah tersebut menjadi faktor risiko yang meningkatkan potensi kecelakaan.

Dalam insiden ini, rem blong menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan yang merenggut nyawa dan melukai banyak orang. Rem blong menyebabkan slip roda lokomotif, yang kemudian mengakibatkan keluarnya lokomotif dari rel. Dampaknya sangat besar, dengan 200 orang kehilangan nyawa dan 250 lainnya mengalami luka-luka.

Kecelakaan ini menjadi peristiwa bersejarah yang menyisakan duka mendalam di masyarakat setempat dan menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan dalam operasi transportasi kereta api. Peristiwa tragis ini juga mendorong upaya perbaikan sistem keselamatan dan perawatan kereta api untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.

Pada tanggal 20 September 1968, sebuah tragedi mengguncang desa Ratu Jaya, Cipayung, Jawa Barat, yang berdekatan dengan Stasiun Citayam. Kecelakaan itu melibatkan kereta api uap Bumel dan kereta api cepat berlokomotif diesel modern, menyebabkan dampak yang menghancurkan.

Insiden itu terjadi akibat tabrakan hebat antara dua jenis kereta api yang berbeda teknologinya. Kereta api uap Bumel, yang pada waktu itu masih menjadi moda transportasi umum yang umum digunakan, bertabrakan dengan kereta api cepat berlokomotif diesel modern. Benturan keras ini mengakibatkan 116 orang kehilangan nyawa, dan puluhan lainnya menderita luka-luka, baik yang bersifat ringan maupun berat.

Kecelakaan ini menciptakan luka mendalam dalam sejarah desa Ratu Jaya dan sekitarnya, mengingatkan akan pentingnya keselamatan dalam operasi transportasi dan mendorong perbaikan sistem pengawasan dan perlindungan penumpang di sektor kereta api. Peristiwa tragis ini juga menyulut upaya lebih lanjut untuk memajukan teknologi keselamatan dalam perjalanan kereta api di Indonesia.

Tanggal 19 Oktober 1987 menjadi saksi tragis dalam sejarah kereta api Indonesia dengan terjadinya kecelakaan di Pondok Betung, Bintaro. Tragedi Bintaro ini menelan korban sebanyak 156 orang tewas dan 300 orang lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa ini dikenal sebagai adu kepala kereta yang terjadi dalam kecepatan tinggi antara KA 220 Patas Merak dan KA lokal 225.

Kereta api Patas Merak, yang membawa tujuh rangkaian gerbong, sedang dalam perjalanan dari Tanah Abang menuju Merak. Di sisi lain, kereta api lokal Merak bergerak menuju Tanah Abang dari Rangkasbitung. Kedua kereta ini melaju dengan kecepatan tinggi dan bertabrakan secara tragis pada pukul 06:45 WIB.

Ketika kecelakaan terjadi, kereta-kerta tersebut sangat penuh sehingga banyak penumpang yang bergelantungan. Hal ini membuat jumlah korban sangat besar, menciptakan pemandangan mengerikan dan duka mendalam di kalangan masyarakat. Tragedi Bintaro kemudian menjadi sorotan nasional, memicu tindakan perbaikan dalam sistem keselamatan dan pengelolaan perkeretaapian di Indonesia.

Tanggal 2 November 1993 menjadi saksi tragis dalam sejarah perkeretaapian Indonesia dengan terjadinya kecelakaan Kereta Rel Listrik (KRL) di Ratu Jaya, Depok. Peristiwa ini menelan korban sebanyak 20 orang meninggal dan 100 orang lainnya mengalami luka-luka.

Kecelakaan ini berawal dari kesalahan informasi antara petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) di pemberangkatan Stasiun Depok Lama dan Stasiun Citayam. Petugas dari Depok Lama memberangkatkan KRL tanpa memberitahu kepada rekan mereka di Citayam. Di saat yang sama, petugas di Citayam juga memberangkatkan KRL. Akibatnya, dua kereta yang berlawanan arah itu saling bertabrakan.

Perlu dicatat bahwa pada tahun tersebut, sistem perkeretaapian masih menggunakan jalur tunggal, yang menjadikan kecelakaan semakin tragis. Insiden ini menjadi titik kritis dalam perbaikan dan peningkatan sistem pengaturan perjalanan kereta api di Indonesia. Kecelakaan ini memberikan pemahaman penting akan perlunya koordinasi yang baik antarpetugas untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.

Pada tanggal 25 Desember 2001, Indonesia harus menyaksikan tragedi kecelakaan kereta api yang terjadi di Brebes. Menurut data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), insiden ini tercatat pada jam 04.33 WIB dan menimbulkan dampak yang sangat tragis.

Dalam kecelakaan tersebut, Kereta Api 146 menabrak Kereta Api 153 Gaya Baru Malam Selatan yang sedang menunggu bersilangan di sepur 3 emplasemen stasiun Ketanggungan Barat. Sebanyak 31 orang dinyatakan tewas, sementara 51 lainnya mengalami luka-luka berat.

Pada saat kejadian, Kereta Api 146 seharusnya berangkat dari stasiun Kejaksan Cirebon pada jam 03:36, namun mengalami keterlambatan selama 2 jam 30 menit dari jadwal yang seharusnya. Tabrakan ini disebabkan oleh pelanggaran sinyal masuk Stasiun Ketanggungan Barat oleh KA 146 yang seharusnya berhenti, karena sinyal menunjukkan lampu merah. Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kepatuhan terhadap aturan dan sinyal dalam sistem perkeretaapian untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.

Pada tanggal 14 April 2006, Indonesia kembali diguncang oleh kecelakaan kereta api yang mengakibatkan 14 orang tewas. Tragedi tersebut terjadi di Stasiun Gubug, Grobogan (Jateng), dan melibatkan KA Kertajaya yang bertabrakan dengan KA Sembrani. Data dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan bahwa insiden ini terjadi pada jam 02.10.

Pada saat kejadian, KA 40 Sembrani bergerak dengan kecepatan normal sekitar 70 km/jam, masuk dari arah Semarang. Masinis melihat bahwa jalurnya terhalang dan segera melakukan pengereman darurat (emergency brake) sambil menunduk. Lokomotif KA 40 kemudian menabrak KA 150 Kertajaya yang berusaha bergerak mundur.

Tabrakan ini terjadi di lokasi wesel, di mana lokomotif KA Sembrani menabrak lokomotif KA Kertajaya. Dampaknya sangat besar, menyebabkan lokomotif KA Sembrani dan tiga keretanya terguling di sawah sebelah selatan rel (arah kanan dari datangnya kereta), sementara dua kereta lainnya anjlok.

Lokomotif KA Kertajaya terlempar ke arah utara rel (arah kiri terhadap datangnya kereta), dengan kedua bogienya terlepas. Bahkan, satu bogie terpisah dan terlempar masuk ke sawah di sebelah kanal rel, menempuh jarak sekitar 50 meter. Tragedi ini menjadi bukti lagi akan kompleksitas dan risiko yang melekat dalam operasional perkeretaapian serta perlunya langkah-langkah pencegahan yang lebih baik untuk melindungi keselamatan penumpang dan awak kereta.

Pada tanggal 9 Desember 2013, Indonesia kembali diguncang oleh tragedi kecelakaan, kali ini melibatkan KRL Serpong-Stasiun Tanah Abang dan sebuah truk tangki Pertamina yang membawa BBM premium sebanyak 24.000 kilo liter. Kecelakaan ini menyebabkan tujuh orang tewas, termasuk masinis, asisten masinis, dan seorang teknisi KRL.

Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 11.15 WIB di pintu perlintasan nomor 57A Km. 16+974 Pondok Betung, Jakarta Selatan. Mobil tangki yang datang dari arah Tanah Kusir menuju Ceger bertabrakan dengan KRL, mengakibatkan kebakaran di seluruh bagian mobil tangki, bagian depan KRL, dan beberapa bangunan dalam radius 15 meter.

Dugaan awal menyebutkan bahwa palang pintu mungkin tidak berfungsi dengan baik atau truk mengabaikan peringatan sirene palang pintu. Kejadian tragis ini membawa ingatan kembali pada Tragedi Bintaro tahun 1987, yang menewaskan 156 korban jiwa, karena tabrakan yang juga melibatkan KRL. Kecelakaan tersebut menunjukkan urgensi untuk lebih meningkatkan sistem keamanan dan pengawasan di lintasan kereta api guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Pada Jumat, 5 Januari 2024, kecelakaan tragis melibatkan KA Turangga dan KA Lokal Bandung Raya terjadi, menciptakan pemandangan yang menyedihkan di lintasan kereta api. Dalam insiden tersebut, KA Turangga terlibat dalam adu banteng dengan KA Lokal Bandung Raya. Informasi terkini menyebutkan bahwa empat kru kereta api tewas, termasuk seorang masinis yang terjepit di dalam.

Meskipun tragedi ini menelan korban di kalangan kru kereta, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dari penumpang. Dari total penumpang KA Turangga sebanyak 287 orang dan KA Commuterline sebanyak 191 penumpang, 22 penumpang mengalami luka ringan dan telah segera dibawa ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan.

Melihat sejarah kecelakaan kereta api di Indonesia pada awal 2000-an yang cukup mencemaskan, pihak pemerintah bersama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) melakukan reformasi besar-besaran. Upaya tersebut bertujuan untuk menekan angka kecelakaan dan meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api. Beberapa langkah yang diambil antara lain adalah mengurangi lintasan sebidang yang rawan kecelakaan, memperbanyak jalur ganda untuk meminimalkan risiko tabrakan, melarang penumpang duduk di atas kereta, menerapkan prinsip one seat one passenger, dan menerapkan sistem boarding yang lebih teratur. Semua ini merupakan langkah-langkah krusial untuk menciptakan sistem transportasi kereta api yang lebih aman dan andal di masa depan.